Langsung ke konten utama

Go Ahead!


Membaca buku tentang ulama Islam, menggertakkan hati saya untuk terus mengejar ketertinggalan saya di manapun saya berada. Sudah hafal alquran berapa juz sih. Mumpung masih mumpung, manfaatkanlah, Nid. Muda-muda gini kok kerjaannya menye sama bucinan. Idihh. Mit-amit dan na’udzubillahi min dzalik. 

Saya masih belum bisa mikir, kok bisa, ya, orang-orang itu bekerja tanpa pamrih. Bekerja keras demi orang-orang yang disayangi. Memikul beban berat yang entah akan lebih besar pasak daripada tiang atau akan sama saja. Orang tua kita sendiri juga termasuk, dong. Entah seberapa peluh yang dihasilkan perhari. Seberapa mikir mereka dengan keadaan kita yang kuliah dan minta ini itu. Pun tanpa meminta, mereka tahu, bukan akan bejibunnya kebutuhan kita. Ya, Allah, jangan sia-siakan perjuangan orang tua kami. Bahkan demi kami yang tidak tahu diri. Bersekolah di SMA Muallimaat saja, rasanya berat mereka rasa. Apalagi yang kini duduk di bangku perkuliahan yang semakin liar saja kalau dirasakan. Yang semakin entah bentuk ibadah yang dialami, serta nafsu yang mana yang tidak dituruti. Bahkan sikap  gengsi, turut mewarnai kehidupan kami. 

Jalan-Mu terlalu luas dan banyak cabangnya untuk kami lalui. Sedikit ilmu yang kami miliki. Banyak sekali nikmat yang telah diberi. Entah seberapa banyak. Banyak sekali, yang jika salah satu saja nikmat, itu dicabut, kami merasakan kesusahan yang teramat sangat. Yang masih saja memberi dan mengasihi bahkan di saat kita alpha melayani,  abai tak peduli, dan bersikap bodo amat dengan hal-hal yang menjadi aturan kita hidup di muka bumi. Nikmat penglihatan yang jika dijabarkan dengan ilmu pengetahuan, bisa jadi, telaah bacaannya menjulang tinggi. Katakan masya allah jika penglihatan itu dicabut sedang kita belum berada di jalan yang benar. Sedang kita masih merasa asing dengan agama kita sendiri. Tanpa arah, tanpa tujuan.

Pemilik hari pembalasan. Di mana Dia yang memiliki dan Dia pula yang berhak memutuskan akan waktu kedatangann-Nya. Hari di mana benar-benar dibalas, perbuatan hamba hamba-Nya. Kawulo lan panjenengan. Saya tahu akan konsekuensi dari semua ini, hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta.  La haula wa la quwwata illa billah. Hamba bertekad kembali, maka bombing Hamba. Hamba tidak akan pernah bisa berada dalam petunjuk-Mu jika tidak Engkau tunjukkan. Hamba tidak bisa ke jalan-Mu tanpa bimbingan-Mu, Ya Allah.

Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus itu, karuniakanlah kami kemampuan untuk menjalankannya. Jalan yang seperti apa? Yakni jalan orang yang telah Engkau beri nikmat. Orang yang begitu menikmati jalan Rabb-Nya. Bukan mereka yang dimurkai akibat pembangkangan mereka, kengeyelan mereka. Jalan yang mereka telah ketahui akan buruknya akan tetapi tetap mereka lalui dan menjadi pilihan sadar mereka. Bukan pula jalan mereka yang sesat. Jalan mereka yang telah berada di atas kebenaran kemudian mencampuradukkan kebenaran dengan hawa nafsu sesaat mereka. Seenak jidat mereka menambah-nambah dan mengurang-ngurang porsi sebuah kebenaran. Jadilah kesesatan menyelimuti mereka. 

Tulisan di atas merupakan tulisan rangkuman materi yang disampaikan oleh Nouman Ali Khan. Yang intinya mengerucut kepada tujuan hidup yang sebenarnya. Semua ini termaktub dalam al-fatihah yang secara tidak sadar, kita baca berulang-ulang dalam harian kita. Tentang permohonan petunjuk yang lurus setiap saat yang sewaktu-waktu dapat saja mlenceng. Oh, iya, disebutkan sebelumya mengenai rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat dan betapa banyak rahmat-Nya, yang tanpa disadari, nikmat itu meluap dan sering tidak kita tahu, betapa mahalnya nikmat Allah itu.

#Seninamalandiangkat
#tahajudtanpangantuk
#istighfarwaktusahur
 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua