Membaca buku
tentang ulama Islam, menggertakkan hati saya untuk terus mengejar
ketertinggalan saya di manapun saya berada. Sudah hafal alquran berapa juz sih.
Mumpung masih mumpung, manfaatkanlah, Nid. Muda-muda gini kok kerjaannya menye
sama bucinan. Idihh. Mit-amit dan na’udzubillahi min dzalik.
Saya masih
belum bisa mikir, kok bisa, ya, orang-orang itu bekerja tanpa pamrih. Bekerja keras
demi orang-orang yang disayangi. Memikul beban berat yang entah akan lebih besar
pasak daripada tiang atau akan sama saja. Orang tua kita sendiri juga termasuk,
dong. Entah seberapa peluh yang dihasilkan perhari. Seberapa mikir mereka
dengan keadaan kita yang kuliah dan minta ini itu. Pun tanpa meminta, mereka tahu,
bukan akan bejibunnya kebutuhan kita. Ya, Allah, jangan sia-siakan perjuangan
orang tua kami. Bahkan demi kami yang tidak tahu diri. Bersekolah di SMA Muallimaat
saja, rasanya berat mereka rasa. Apalagi yang kini duduk di bangku perkuliahan
yang semakin liar saja kalau dirasakan. Yang semakin entah bentuk ibadah yang
dialami, serta nafsu yang mana yang tidak dituruti. Bahkan sikap gengsi, turut mewarnai kehidupan kami.
Jalan-Mu terlalu
luas dan banyak cabangnya untuk kami lalui. Sedikit ilmu yang kami miliki. Banyak
sekali nikmat yang telah diberi. Entah seberapa banyak. Banyak sekali, yang jika
salah satu saja nikmat, itu dicabut, kami merasakan kesusahan yang teramat sangat.
Yang masih saja memberi dan mengasihi bahkan di saat kita alpha melayani, abai tak peduli, dan bersikap bodo amat dengan
hal-hal yang menjadi aturan kita hidup di muka bumi. Nikmat penglihatan yang
jika dijabarkan dengan ilmu pengetahuan, bisa jadi, telaah bacaannya menjulang tinggi.
Katakan masya allah jika penglihatan itu dicabut sedang kita belum berada di
jalan yang benar. Sedang kita masih merasa asing dengan agama kita sendiri. Tanpa
arah, tanpa tujuan.
Pemilik hari pembalasan.
Di mana Dia yang memiliki dan Dia pula yang berhak memutuskan akan waktu
kedatangann-Nya. Hari di mana benar-benar dibalas, perbuatan hamba hamba-Nya. Kawulo
lan panjenengan. Saya tahu akan konsekuensi dari semua ini, hanya kepada-Mu
kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta. La haula wa la quwwata illa billah. Hamba bertekad
kembali, maka bombing Hamba. Hamba tidak akan pernah bisa berada dalam
petunjuk-Mu jika tidak Engkau tunjukkan. Hamba tidak bisa ke jalan-Mu tanpa
bimbingan-Mu, Ya Allah.
Tunjukkanlah kami
kepada jalan yang lurus itu, karuniakanlah kami kemampuan untuk menjalankannya.
Jalan yang seperti apa? Yakni jalan orang yang telah Engkau beri nikmat. Orang yang
begitu menikmati jalan Rabb-Nya. Bukan mereka yang dimurkai akibat pembangkangan
mereka, kengeyelan mereka. Jalan yang mereka telah ketahui akan buruknya akan
tetapi tetap mereka lalui dan menjadi pilihan sadar mereka. Bukan pula jalan mereka
yang sesat. Jalan mereka yang telah berada di atas kebenaran kemudian
mencampuradukkan kebenaran dengan hawa nafsu sesaat mereka. Seenak jidat mereka
menambah-nambah dan mengurang-ngurang porsi sebuah kebenaran. Jadilah kesesatan
menyelimuti mereka.
Tulisan di atas
merupakan tulisan rangkuman materi yang disampaikan oleh Nouman Ali Khan. Yang intinya
mengerucut kepada tujuan hidup yang sebenarnya. Semua ini termaktub dalam
al-fatihah yang secara tidak sadar, kita baca berulang-ulang dalam harian kita.
Tentang permohonan petunjuk yang lurus setiap saat yang sewaktu-waktu dapat
saja mlenceng. Oh, iya, disebutkan sebelumya mengenai rasa syukur kepada Allah
atas segala nikmat dan betapa banyak rahmat-Nya, yang tanpa disadari, nikmat
itu meluap dan sering tidak kita tahu, betapa mahalnya nikmat Allah itu.
#Seninamalandiangkat
#tahajudtanpangantuk
#istighfarwaktusahur
Komentar
Posting Komentar