Rabu, 12 Juni 2019
Heu, hari itu kami silaturahmi ke
guru-guru Muallimaat. Rasanya mengasyikkan sekali. Ya, pada awalnya, aku yang
menanyai Husna malah justru dimarah-marahi sama Halimah soalnya aku bilangnya
besok. Ya, maksudnya bukan besok itu, besok kapan-kapan. Hari Rabu juga masih
besok kan?
Pukul Sembilan kami kumpul di
Paseban. Saya mengantar ibu dulu dari Jebugan ke Keyongan. Pada awalnya sih
sebel juga. Kan saya sudah bilang ke ibu jikalau di hari itu saya ada agenda.
Malah disuruh jemput dadakan. Tetapi saya sadar sudah kewajiban saya untuk
birrul walidain. Patuh terhadap ibuk. Perbanyak istighfar, Nid. Ibu habis
menemani Pakdhe Umar kontrol. Ada Mbak Firda juga yang turut menemani kami. Budhe
Tin dengan berat hati sudah terbang ke bumi Bengkulu melanjutkan pekerjaannya.
Mudah-mudahan Pakdhe Umar yang habis menalani operasi gagal ginjal ini bisa
sembuh. Amiin.
Kami berlima, Husna dibonceng
Inas. Halimah dibonceng Zula sedangkan saya alone. Ya, biasa. Yang lain
rumahnya berdekatan. Saya mah, apa. Mung ngintili. Hehehe. Kami membuat grup WA
yang diberi nama Selatan. Ya, kami cah-cah Selatan mau motoran nih,
mentang-mentang udah alumni. Selagi masih Syawwal dan ada dorongan untuk
bersilaturahmi, kami langsung saja berencana ke tempat ustadz/ustadzah
terjinta.
Pertama, kami bersilaturahmi ke
istana Umi Unik. Rumahnya asri sekali, kesan pertama kami memandang rumah kayu
berlantai dua yang dihiasi tanaman menjuntai dari lantai atas. Umi Unik ramah
sangat menyambut kami. Cah-cah Bantul. Kami ngobrol ngalor ngidul. Selaku
pimpinan Muallimaat, Umi Unik banyak mengajak kami berdiskusi mengenai kondisi
Muallimaat. Mulai dari masukan sana-sini selagi MH yang masih hangat kemarin,
kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa terjadi, problem mujanibah dan lain sebagainya.
Pangendikan beliau yang saya suka adalah bagian MH Internasional. Di mana yang
memilih untuk mengikuti MHI adalah yang mampu. Mampu diseleksi juga termasuk,
tentu. Dan mampu” yang lain. Lantas, yang memiliki kecakapan lebih dan tidak
mampu di hal lain malah tidak berkesempatan, itu yang menjadi PR bagi kami.
Terbaik lah, Umi Unik. Mudah-mudahan beliau selalu dalam lindungan-Mu, Ya
Allah. Kali itu yang matur saya, menggunakan Bahasa Indonesia yang nggak
banget, buat saya yang levelnya udah mau jadi mahasiswa.
Bertolak dari rumah Umi Unik kami
ke Rumah Ustadzah Sabar. Rumahnya lumayan susah di cari. Terletak di
perkampungan padat yang jarang motor melintas. Hanya satu dua, dan banyak
polisi tidur dari satu meter perjalanan ke satu meter lainnya. Ada tiga anak
beliau dan simbah dari ketiga anak tersebut. Mereka adalah Sasa, Rani dan Amru.
Yang terakhir inilah yang sudah purna nyantri di Muallimin. Ikut ngobrol dengan
kami tu anak, walau berjauhan, dan hanya mantengin hape. Sesekali nyelutuk
kalau kedua adiknya membuat dia jengkel. Adzan dzuhur berkumandang selagi kami
masih asyik bercengkrama. Sekeluarga solat di masjid. Memang kebiasaan kali,
mandi sekali sehari kalau libur bagi Sasa dan Rani dan mungkin bagi yang sedang
membaca tulisan ini. Di masjid, kami bertemu dengan alumni Muallimaat lulusan
tahun 1960. Menceramahai kami dengan semangat bertubi-tubi. Akan tetapi kami
tidak faham dan mengiyakan lan mirengke dengan baik. Kacamata saya tertinggal
di tempat wudu. Saya ingat betul terakhir taruh itu kacamata. Setelah
ditelusuri lagi dan lagi kok nggak ketemu-temu. Saya harap, Bu Sabar bisa
membantu saya.
Matur kali ini hingga ke ustadzah
terakhir disampaikan oleh Mba Halimah. Memakai Bahasa Jawa kromo yang well
sekali. Seperti ini, “Keparing matur kalian Ustadzah Sabar lan sekeluargo, mbok
menawi kito teng mriki badhe sapindah, silaturahmi. Ingkang kaping kalih,
ngaturaken Sugeng Riyadi, taqabballallhu minna wa minkum. Mugi-mugi amal ibadah
kulo lan panjenengan saged dipun tampi kalian gusti Allah SWT soho sedoyo doso
lan kalepatan kulo lan panjenegan saged kalebur dening Gusti Allah. Mugi-mugi
sedoyo punapa ingkang dados kekarepan kulo lan panjengengan dipun ijabahi
dening gusti Allah. Amin”
Soal kacamata yang tertinggal
lantas hilang itu sudah tertemukan. Awalnya bilang dengan penuh rasa malu
hingga Ustadzah Sabar menanyakan maksud saya bicara. Mau bicara apa mau
ngelamar Amru, Da? Alhamdulillah, saya bisa mengatakan yang sebenarnya perihal
kacamata saya itu. Jawabannya, memang kalau ada barang yang ketinggalan di
sekitar masjid pasti akan diopeni oleh mbah kaum. Amru waktu itu yang mencari,
mengambilkan. Terimakasih. Weww. Sasa dan Rani adalah anak-anak yang hebat dan
pintar. Cerewet nan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tak berlangsung lama
selepas solat, kami pamit menuju kawasan Suronatan.
Sebelum ke Suronatan kami golek
pakan dulu di Uzzan. Tempat makan paling bermemori bagi kami, alumni moeat.
Entah kenapa, mungkin Ustadzah yang kami kunjungi sedang puasa Syawwal dan
tidak memasak hari itu. Namun camilan yang enak tetap disuguhkan oleh beliau.
Bu Tutik, direktur sebelum 2
periode Bu Erna. Dalam rumah beliau isinya berasa memasuki dunia anak-anak.
Perempuan khususnya. Dekorasi pink dan mainan super banyak ada di sana. Anak
dijamin betah hidup di rumah itu. Wkwkwk. Tak jauh-jauh bahasan kami dengan
ustadzah kebanyakan. Kuliah dan musyrifah. Dua hal yang krusial bagi alumni
fresh graduate seperti kami. Ada sesi fotonya dan beliau adalah satu-satunya
ustadzah yang mengabadikan momen silaturahim ini.
Disambung ke istana Ustadzah
Pive. Guru matematika humoris walau sedikit galak tanda tegas ini, mengajari
kami artinya semangat dalam menjalani kehidupan. Lulus S1 punya anak 1. S2,
anak 2. S3, anak ketiga dan seterusnya. Mantap, kudu pinter. Kudu produktif.
Yang tua saja semangat apalagi yang muda. Nah loo.
Ingin rasanya ke tempat Abi Main, tetapi
sungkan dengan anaknya mungkin dan kami pun tidak jadi. Aneh, kami itu. Kami
hijrah dengan berlawan arah, ke selatan lagi. Ke tempat Abi Juned di Beji.
Sesampainya di sana sudah masuk waktu ashar dan kami melaksanakan solat ashar
terlebih dahulu. Kami bertemu dengan cucunya yang lucu, melihat kolam ikannya,
dan disuguhi kerupuk ikan kesukaan alumni tahun 98’. Berceritalah abi mengenai
rumahnya, karyawannya dan sebagainya. Khawatir tidak nyandak, kami pamit menuju
rumah Abi A’la.
Kami nyasar ke jalan Imogiri
Timur kala itu. Jauh sekali. Inas dan Husna pamit mendahului, ada acara.
Alhasil ekdpedisi silaturahim itu tinggal tiga pejuang saja yang masih
meneruskan. Abi a’la sebenarnya sedang pergi. Namun ketika di telpon halimah,
abi tidak mau menjadi among tamu yang mengecewakan. Segera saja abi jawab kalau
abi ada di rumah. Sesampainya di sana kami di sambut baik dengan istrinya.
Menunggu Abi hingga mepet maghrib.
Seluruh perabotan yang ada di
rumah Abi a’la hampir dibuat oleh tangan beliau sendiri. Dari rak buku,
aquarium, kursi, hingga sarang burung dan kandang ayam. Ampuh, unik dan
melegenda memang. Lelaki idaman, bukan? Ikan palsu warna kuning yang ditempel
amatlah lucu dan bikin ngakak. Abi A’la memang kocak. Guru Bahasa Arab yang
pernah mengajar praktek membuat tempe di dapur madrasah. Satu-satunya.
Maghrib. Kami maghriban di
keyongan. Selepas sembahyang, kami langsung ke rumah Ustadzah Rina. Beliau
rumahnya sangat dekat dengan saya. Suaminya, Pak Kasmadi, mantan guru olahraga
Muallimin. Maka tak jarang bahasan kami lebih menyinggung kehidupan pribadi
saya yang menyedihkan.
Tak mau berlama-lama, langsung
kami meluncur ke rumah Ustadzah Elpin di Srandakan. Paling selatan dan
berlawanan arah dari rumahku. Guru paling gigih ini benar-benar luar biasa.
Untuk pertama kali di tahun ini, beliau menjabat sebagai wadir 2 bagian
akademik. Mengurusi banyak hal dan rapat sana-rapat sini. Banyak sekali hikmah
yang dapat diambil dari silaturahim di tempat beliau.
Saya pulang sendiri dari
Srandakan ke Keyongan. Ngebut nggak ada kapoknya buat saya. Hampir lupa solat
Isya’ tapi tetap saya kerjakan pada jam sebelas malam. Takut nek mati pas turu.
Ndak suul khotimah. Btw, ini adalah tulisan saya paling niat, cepet, dan
panjang selama liburan. Pertahankan!
Komentar
Posting Komentar