Langsung ke konten utama

Ngonthel





Tulisan formal tentang “Ngonthel” sudah saya kirim ke Republika yang tandanya, karya siap untuk dipublikasikan oleh media tersebut. Akan saya tulis ulang mengenai “Ngonthel” versi santai yang kamu pun berhak untuk menilai. Hihihi.

Perjalanan bersepeda dari Keyongan-Muallimaat adalah perjalanan yang amat jauh nun melelahkan. Pun terkadang jari-jari kaki yang kram menjadi kendala tersendiri di tengah safar. Pendapat ibu, jelas tidak mengizinkan anaknya yang paling cantik ini bersepeda di tengah banyaknya asap dan polusi. Apalagi ngebut-ngebutnya orang, banyak yang akhirnya mendapat musibah kecelakaan di sana-sini. Pelawanan dengan adu argumen sudah saya siapkan supaya dapat dihujamkan kepada Ibu. Supaya pengertian dari sang Putrinya ini diterima dan diridloi. Kalau tidak direstui, acara ke pondok dengan bersepeda ini mungkin akan lain ceritanya. Kemungkinan besar, tidak sampailah saya di pondok. Entah bisa kecelakaan di tengah jalan, dirampok, diculik atau rencana-rencana Allah yang lain. Tidak direstui, tidak ada tanda yang aman lagi. 

Dari mana tercetus ide ngepit? Dari cerita-cerita sepupu tertua yang bercerita mengenai beratnya perjuangan menghidupi anak-anak yang banyak, termasuk di antaranya, adalah ibu saya. Membawa beban berat berupa beras yang beratnya berkilo-kilo gram, dan jarak tempuh yang berkilo-kilo meter. Haru campur bangga melihat keturunan-keturunan yang berhasil berkat perjuangan mbah buyut serta tak lupa doa yang selalu dipanjatkan kepada Allah di tengah malam.  Di samping itu, semangat “ngonthel” bermula dari cerita pakdhe yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Pakdhe pernah bercerita, dahulu, beliau sering mengikuti pengajian di Imogiri dengan bersepeda. Banyak yang mengejek pakdhe. “Kae, Tiyas arep neng suwargo numpak pit.” Justru dengan direndahkan seperti itu, pakdhe membajakan niatnya dan anti menye-menye club.

Pernah musim hujan saya ngepit dari rumah pukul setengah enam pagi. Sampai pasar Niten, basah sudah baju seragam saya. Dingin yang menusuk campur basahya keringat mendiami badan saya. Rasanya ingin untuk meniggalkan sepeda dan memilih naik grab saja. Sudah dicoba, namun grab mana yang mau mengantar saat hujan? Semua driver sibuk! Saya paksakan, berharap Allah melihat hamba-Nya yang sedang melangkah bertholabul ilmi ini kemudian menyuruh malaikat penjaga awan untuk menahan sebentar air yang turun. 

Dalam perjalanan saat bersepeda, adalah hal mengasyikkan dapat melihat aktivitas orang-orang berpeluh keringat saat bekerja. Kesibukan-kesibukan orang yang secara langsung saya lihat menyadarkan saya tentang kewajiban bersyukur atas kenikmatan yang dianugrahkan dan anti sambat terhadap musibah yang menimpa. Alam yang terhampar juga menyejukkan mata bagi yang mau memandang dan memikirkan. Guncangan syukur tiada henti saya temui di perjalanan. Sungguh, bersepeda muallimaat-Keyongan tiada apa-apanya dibanding petugas kebersihan yang mengambil sampah. Tiada capeknya dibanding pengayuh becak. Tiada hebatnya dibanding supir bis yang ikhlas mengantar penumpangnya. 

Pun memurojaah hafalan merupakan suatu kenikmatan yang tiada tara. Kapan lagi saya ada waktu jika tidak diberi waktu khusus? Saat bersepeda, itulah waktunya. Waktu di mana, bibir ini saya manfaatkan untuk memurojaah hafalan. Lumayan, mendapat satu juz atau mengulang hafalan baru. Selain itu, saya juga dapat mengatur pernafasan sehingga dapat melafalkan ayat dengan baik. Tidak berhenti asal atau sampai kehabisan nafas.(fatal soale. hehe). 

Besok-besok kalau mau pergi-pergi pakailah sepeda. Ke kampus juga boleh banget malah. Nggak perlu bayar bensin, nggak bingung markirin motor, nggak perlu ada STNK atau cegatan dan cepet meliukkan kendaraan di tengah padatnya kendaraan yang semakin ke sini semakin nggak karuan. Naik sepeda juga kece kok, dibanding dibonceng cowok yang bukan mahram. Prinsip itu selalu sama, di mana pun dan kapan pun. Kalau naik mobil, boleh, lah. Tetapi kalau motor, harus dihindari, ya! Sungguh, prinsip yang entah oleh siapa akan diwariskan. Sekian

*NULISKU11muharram yang Alhamdulillah, Muallimaat mengadakan tabligh akbar. Yuk, ramaikan 1 Muharram! Nek 1 Januari wae heboh. Huh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua