Aku sedang
dilamar oleh laki-laki yang kuidam-idamkan.Ia datang ke rumahku dengan
menggunakan baju batik bewarna coklat. Tak tanggung-tanggung, seluruh
keluarganya turut serta dalam prosesi lamaran itu.
“Mbak Nida bangun, Mbak! Kamu dah
solat subuh belum? Udah jam setengah lima lho.”
Aku terbangun
dari mimpi yang indah menuju panggilan keberuntungan. Kehidupanku berganti
channel ketika ibu membangunkanku. Aku
menyesal, panggilan keberuntungan itu sudah nyaring berbunyi setengah jam yang
lalu akan tetapi aku malah terlelap. Itu dari akalku. Sedangkan nafsuku
berkata, “Udah, tidur lagi aja. Mimpi itu pasti indah banget kalau kamu mau
melanjutkan.” Tapi hati ini kupaksa agar tak menuruti nafsu. Aku berdoa setelah
bangun tidur kemudian kuteriakkan “Allahu akbar”, Allah Yang Mahabesar.
Seusai solat
subuh, aku panjatkan doa kepada illahi robbi. Tak lupa aku berdoa semoga “dia”
menjadi jodohku. Masa-masa remaja kelas 1 SMA yang dimabuk cinta.
Senyuman
bermakna cinta ini tak bisa terlepas dari wajahku hari ini. Mimpi itu memforsir
seluruh tindak-tandukku. Hingga ibukupun mulai mencurigaiku.
“Ibu, Nida pamit, ya! Makasih,
Bu, sarapannya. Tempe yang ibu goreng enak banget lho.”
“Oke, hati-hati Mbak! Tapi kok
ibu lihat ada yang aneh sama mbak Nida, ya.”
“Ah, nggak ah, bu. Nida
biasa-biasa aja kok.”
“Dari tadi mbak Nida itu
senyum-senyum terus. Ada yang disembunyikan, apa?”
“Oalah, Nida hari ini seneng
banget, Bu. Soalnya nanti ada pelajaran bahasa Arab. Hehe.”
Aku
mengelak dari kebenaran yang ibu tuduhkan kepadaku. Aku malu untuk
menceritakannya.
SMA-ku
berjarak seratus meter dari rumah melewati satu perempatan. Di jalan akupun
terus melanjutkan senyum itu. Aku berani senyum karena aku mengenakan masker.
Parah sekali. Saat menyebrang jalan, aku tak melihat ada mobil pick up yang
melaju kencang dari sebelah barat. Tak sempat menoleh, mobil itu menabrakku
hingga aku tak sadarkan diri.
***
Aku berada di
alam yang berbeda. Aku mengenalinya dengan sangat. Ini bukanlah bumi yang selama ini aku tempati. Aku
melihat sesosok berbaju putih di kananku dan sesosok berbaju hitam di sebelah
kiriku. Hatiku berdebar kencang. Kepalaku tertuduk, tak kuasa melihat semua
ini. Aku takut, takut sekali. Aku mendengar sesosok yang berwajah putih
berkata, “Akan kulaporkan kepada Tuhan bahwa aku memilihnya untuk memasuki
surga. Ia selalu mengingat-Nya ketika hendak ataupun menyelesaikan sesuatu. Dia
juga selalu bisa merasakan kemahabesaran-Nya sekalipun nafsu berusaha
membelenggunya. ”Sesosok berbaju hitam menimpali
dengan suara menggelegar, “Kamu ini. Tidak bisa. Dia bahkan mati tidak dalam
keadaan mengingat-Nya. Dia akan kubawa ke dalam neraka.”
***
Aku terbangun
dari tidur. Aku mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi. Di samping
kananku aku melihat ibu yang tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang menempel di atas kasur. Ia memegang kepalaku. Aku
menengok ke jam, jam satu malam rupanya. Hatiku masih terus berdebar kencang.
Aku takut, aku takut mati sedang amalanku belum mencukupi untuk masuk ke surga.
Bahkan mengingat mati pun sangat jarang kulakukan. Aku lebih banyak mengingat
jodoh, laki-laki tampan dan sebagainya. Pikiran busuk itu aku upayakan terkubur
jauh di sana. Aku tak mau lagi mengingat sesuatu yang payah nan hina itu.
Aku
tak percaya dengan pengalaman menakutkanku itu. Aku mengucap, “Alhamdulillahilladzi
akhyana ba’da maa amaatanaa wa ilaihinnusyur. Terimakasih, Ya Allah,
kepada-Mulah pujian itu dikembalikan. Aku besyukur atas nikmat hidup yang
Engaku berikan ini. Terima kasih atas kesempatan supaya aku bisa lebih baik lagi
dalam menjalani hidup untukl beribadah kepada-Mu. Ya, Allah, tunjukkanlah
kepadaku bahwa yang haq itu adalah haq, dan berikanlah aku kemampuan untuk
mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepadaku bahwa yang batil itu adalah batil, dan
berikanlah aku kemampuan untuk menjauhinya. Amin.” Benar kata Ustadzah yang
mengajar mapel PAI, hidup manusia itu ya ibadah, 24 jam perhari adalah ibadah.
Bukan hanya lima menit dikali waktu sholat.
***
Sekembalinya
aku dari rumah sakit, ibuku menceritakan semua yang terjadi padaku. Aku
ternyata mengalami koma selama tiga hari. Kematian itu selalu di depan mata.
Tak pernah ia meninggalkanku barang sedetik. Meminjam istilah seorang ulama
dari Indonesia, “Saat aku siap untuk masuk Islam, saat itu pula aku siap mati.”
Maksudnya, dan janganlah kamu sekali-kali mati kecuali kamu dalam keadaan berislam.
Padahal mati itu ya hanya sekali.
Aku
mengazamkan diri, akan selalu kusertakan
ingatan mati di setiap nafas ini.
Komentar
Posting Komentar