Langsung ke konten utama

Aku, Hidup Yang Tak Pernah Redup



Memberikan sepercik malamku untuk sebuah tulisan benar-benar paksaan yang mengalir. Aku berani memaksa diri yang lelah. Lelah dipakai seharian. Aku memaksa karena aku tahu, berhenti menulis adalah upaya untuk menghentikan mimpi. Menghentikan mimpi sama saja membunuh masa depan. Karena aku percaya, masa depanku adalah buatanku yang sedang diproses. Butir-butir kata yang terbuat dari tinta dirangkai menjadi paragraf. Ya, setiap hari aku selalu mewajibkan tubuh dan pikiran ini untuk menuliskan setidaknya satu buah karya. Entah itu catatan harian, opini, cerpen ataupun puisi. Menulis di atas olahan kayu bewarna putih lebih mengasyikkan daripada harus bertatap layar yang bercahaya alias laptop. Saat ada waktu senggang dan full-wifi, baru aku mempostingnya di blog pribadi. 

Malam jam sebelas aku masih membuka mata setelah mengerjakan urusan yang terbengkalai tadi. Dilanjutkan menulis sebuah karya yang amat sederhana. Sering orang-orang menyebut bahwa diary untuk usiaku ini adalah cupu. Tetapi justru kebiasaan diary yang masih dibiasakan hingga remaja inilah yang langka, yang membuat pikiran tajam dan tulisan terasah.

Ahad-22-10-17

Teman Putihku,
Aku menyesal gara-gara seharian ini aku cuma duduk, tidur-tiduran sambil nonton drama korea yang banyak oppanya. Aku gila. Ya Allah, aku tahu kalau usia menjelang SMA itu usia produktif, gak pantes buat disia-siain Cuma buat gitu-gitu aja. Sungguh, jikalau dengan nonton dramkornya Nida, Nida bisa mendekat pada-Mu maka izinkan Nida untuk melihat dramkor terus. Nyatanya dan benarnya, nonton dramkor sama sekali gak mendekatkanku sama Allah. Cukup buat  14 episode. Semoga ini menjadi yang terakhir. Coba, deh kalau libur ahad ini aku gunain buat murojaah hafalan Quran, pasti dah dapet berapa juz ya? Buat ngerjain soal UN, pasti dapet berapa paket soal, ya? Nonton Cuma bikin nyesek ati. Lupa nyuci, lupa nyetrika, lupa ngerjain tugas, sampe lupa makan juga. Jika setiap hari aku kayak gini, bisa bisa aku jadi budak laptop. Kidz zaman now lah ya. Kan serem kalau tiba-tiba di berita tertera, ”Anak Remaja Tewas Gara-Gara Nonton Dramkor.”

Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnattiba’ah wa arinal bathila bathila warzuqnajtinabah. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang haq itu adalah haq dan karuniakanlah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kami bahwa yang bathil itu adalah bathil dan karuniakanlah kami kemampuan untuk menjauhinya. Amiin. 

“Mbak Nida, bangun, Subuh!” Ibu membangunkanku dengan  berulang-ulang. Biasanya ketika adzan berkumandang aku bisa bangun sendiri. Kali ini aneh luar biasa. Sulit dibangunkan.
“Heh, iya, Bu. Eehm.” Aku membersihkan kotoran yang ada di mata, blobok

Dinginnya air di pagi hari untuk daerah Sleman masih saja mampu untuk membuat badan ini kaku. Padahal aku sudah bertahun-tahun tinggal di sini.

Setelah solat, mandi, sarapan, solat dhuha, pakai kerudung, aku pamit dan mencium tangan ibu.
Sesampainya di sekolah tercinta aku langsung membaur bersama teman-teman yang lain. Mengobrol ngalor-ngidul. Jelas, aku membahas dramkor yang kemarin aku tonton. Aku tertegun melihat beberapa anak yang mengerjakan bank soal UN-nya. Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Kalau buat ngerjain soal dapet tujuh sampai sepuluh soal. Lumayan, kan kalau dilakuin setiap hari. Bagaimana, ya, nasib UN-ku besok, kalau di semester satu ini aja aku dah males-malesan kayak gini. Cuma tahu dramkor melulu.

“Eh, gengs, gimana kalau setiap hari kita sarapan.”
Aku mengusulkan usulan yang buat mereka ternganga.
“Kok kamu nyuruh kita sarapan lagi, sih Nid? Kita kan udah pada sarapan di rumah.”
Teman-temanku yang lain menatapku penuh keheranan.
“Bukan sarapan nasi tapi sarapan soal.”
“Haaa. Maksudnya, apa, ya?”
Temanku yang sedari tadi mengerjakan soal melihatku dengan ambisius penuh harap.
“Jadi begini kawan, setiap hari, kita bakal disuguhi beberapa soal. Urut, IPA-bahasa indonesia-bahasa inggris-MTK. Nah, nanti yang bakal nulis soal itu ya kita sendiri. Urut dari absen satu. Oh, iya, yang nulis soal harus dateng lebih awal. Soalnya maksimal lima aja. Ntar, kalau bisa jawab boleh duduk. Yang nggak bisa jawab ya pokoknya harus bisa jawab. Gak boleh tanya temen sekelas. Bolehnya temen kelas sebelah.”
“Wadaw. Good idea, tuh, Nid. Daripada Cuma ngobrol useless gini, kan, mending tuh ngerjain soal. Bareng-bareng lagi.”
Dinda mengomentari usulanku sambil menganggukkan kepala. Dia tergolong siswa yang cerdas tapi sayang, kecerdasannya terkalahkan sama yang rajin-rajin tadi yang ngerjain soal-red. Aku jamin dia gak mau kalah sama mereka. Pasti gengsi kalau harus ngerjain soal bareng mereka.
“Boleh juga, tuh. Berarti besok Adit, ya, yang beri kita sarapan.”

Salah satu temanku menimpali pendapatku dengan tersenyum licik. Adit sering sekali terlambat kalau masuk sekolah. Katanya, sih susah kalau dibangunin. Kebetulan sekali Adit gak terlambat hari ini. Semua temanku secara spontan menoleh ke Adit yang sedang tertawa kecil sambil menundukkan kepala.

Bel berbunyi, KBM pun dimulai. 

KBM berakhir jam dua siang. Setelah itu dilanjut bimbel sampai jam setengah empat. Sebelum ke rumah, aku pergi ke perpustakaan daerah untuk mengembalikan da meminjam buku. Setelah itu, aku menyalakan laptop hitamku. Mumpung ada wifi gratis, langsung saja dimanfaatkan. Jaringannya kencang, benar-benar surga dunia. Tadi sewaktu pelajaran bahasa Indonesia, aku diberitahu oleh guruku yang bernama Ibu Triningsih bahwa ada lomba menulis surat untuk teman. Ya, hadiahnya sih, lumayan. Setelah aku cari-cari, ternyata lomba ini deadline-nya tanggal empat Desember 2017. Wajib dikirim lewat pos dan diberi tanda legal dari sekolah. Untuk menemukan ide di saat-saat pikiran penuh sesak memang sulit. Nanti saja, lah, masih lama, pikirku.  Aku simpan informasi lomba tersebut dan beralih ke hiburan, membuka youtube, facebook, gmail, dan tak lupa aku posting tulisanku di blog.

Waktu terus bergulir, seperti hari-hari biasa, bimbel setiap pulang sekolah, sampai rumah mengerjakan pekerjaan rumah, menulis karya hingga secara tidak sadar, sekarang sudah H-2 pengumpulan naskah. Malam itu juga, karyaku aku alihkan untuk menulis naskah teks surat. Seperti biasa, catatan peristiwaku hari ini, tanggal dua Desember 2017
 
Bantul,  2 Desember 2017
Kepada Teman-teman Seperjuangan
SMP Bina Ikhlas
Di Keyongan Kidul, Sabdodadi, Bantul
Assalamualaikum, Teman! Aku tidak mengantuk pada jam 23.00 WIB malam ini. Aku lebih suka membaca ataupun menulis. Dan setelah aku membaca koran Republika langgananku, aku sempatkan diriku untuk menulis surat yang menjadi lebih dari sekadar pelepas rindu. Malam Minggu, Jalanan tadi masih ramai lancar. Rasanya ingin menonton film barat yang ber-subtitle itu karena Iwant to improve my english ability. Tetapi karena mengejar deadline aku urungkan keinginanku itu.
            Aku selalu meneteskan air mata mambaca berita-berita di dunia akhir-akhir ini. Entah itu antarnegara yang saling bersitegang. Juga kasus-kasus pelanggaran HAM yang tak kunjung selesai. Contohnya saja kasus Israel-Palestina dan kasus Rohingya di Myanmar. Belum kasus-kasus tersebut selesai, kini kita harus dihadapkan oleh kasus kelaparan di Afrika. Rasanya aku ingin langsung menjadi anggota PBB sekarang juga. Namun aku tahu diri, Teman, aku baru hanya sebutir debu. Aku gak bisa berbuat lebih untuk kejadian yang jelas-jelas ada di depan mataku.
            Pukul 21.00 WIB tadi, aku baru berada di ulang tahun kalian. Tidak peduli dengan cucianku yang menumpuk, tidak peduli dengan buku yang sebenarnya aku ingin baca yang baru saja aku pinjam dari perpustakaan. Namun aku lebih memilih tetap membersamai kalian. Di acara tersebut, aku sedih, Teman. Pertama, di antara kita masih saja ada yang berkubu-kubu. Di antara kita masih ada yang saling merendahkan, mengejek. Padahal kita semua tahu, jauh di sana, Negara Palestina, lebih butuh solidaritas dari kita semua. Melihat Palestina yang tersudutkan apa pantas kita berbuat seperti itu? Berkaca dari Palestina ini, seharusnya inilah waktunya kita rapatkan barisan. Mereka sendiri yang di tengah ketakutan dan peperangan saja bersatu, apalagi kita yang hidup di negara damai, Indonesia.
            Kedua, saat acara yang salah satunya itu diisi dengan evaluasi angkatan telah diakhiri, aku sedih menatap kalian yang pulang dengan kondisi tempat yang memprihatinkan. Padahal masalahnya tidak sesepele bagi mereka yang mengetahui akibatnya. Membuang sampah sembarangan dan menyisakan makanan. Sampah identik dengan kebersihan. Kebersihan identik dengan kesehatan, dan kesehatan merupakan  faktor keberlangsungan hidup. Besar bukan, akibatnya? Sisa makanan yang kalian buang itu, mungkin saja tidak berguna bagi perut kalian yang kenyang. Namun bagaimana dengan dua juta warga negara Somalia, Negaria, Sudan, dan Yaman yang sedang mengalami malnutrisi akut itu? Tak terbayangkankah hal tersebut di pikiran kalian? Tak pernah terpikirkankah hal tersebut di benak kalian?
            Cukup membahas acara tadi. Sepulang dari membereskan tempat yang dipenuhi sampah dan sisa makanan itu aku langsung menuju rumah. Di perjalanan aku temui pemuda seusia kalian nongkrong-nongkrong. Kalau diamati lamat-lamat, di sekeliling pemuda itu terdapat alkohol dan juga wanita malam. Mengerikan sekali. Aku harap kita semua bisa saling menjaga, mengingatkan dan merangkul antara satu dengan yang lain. Jangan sampai kita terpedaya dengan kenikmatan yang sementara yang jelas merusak masa depan.         
Aku hari ini begitu terpana membaca informasi dari koranku tentang tradisi belajar yang semakin ke sini semakin berubah. Selama bertahun-tahun kita sekolah formal, Teman, sebenarnya apa yang telah kita dapatkan? Apakah sepadan dengan waktu selama itu? Aku semakin tak mau kehilangan waktu produktifku. Aku berusaha tidur malam untuk belajar dan bangun sebelum subuh untuk belajar kembali. Aku semakin banyak membaca, membaca, dan membaca. Soal koran, aku merasa bahwa di antara ratusan anak SMP ini, aku adalah salah satu anak yang suka sekali dengan koran. Terutama koran Republikayang isinya tidak memihak sayap kiri maupun kanan. Koran itu pun menghadirkan rubrik-rubrik islami di dalamya.
            Maaf, bicara terlalu jauh, Teman. Lampu utama rumahku sudah mati. Tanda tak ada lagi kehidupan yang terdengar. Entah berapa jam aku menyelesaikan surat dan curhat ini. Aku harap kalian bisa dan sempat menjawab surat ini dengan balasan yang dapat memuaskan dan melapangkan hatiku. Sekadar intermezzo sebentar, alhamdulillah sarapan kita berjalan dengan lancar.
            Terima kasih banyak, Teman. Aku berharap kelak setelah tiga tahun di sini kita tidak saling melupakan. Setelah menjadi alumni besok, aku jamin kita mempunyai banyak link di seluruh nusantara karena kita semua pasti insyaallah, akan menjadi orang hebat.
Wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. 
                                                                                                        Salam senyap (sesenyap malam ini),

                                                  Nida Fauzia

            Selesai juga teksku ini. Alhamdulilah. Patut diingat, aku baru menulisnya di buku harianku. Belum diketik sekaligus diatur formatnya. Aku pun baru mengetik surat itu besok malamnya. Dan malam ini adalah malam dari hari terakhir deadline lombaku. Pengiriman naskah maksimal tanggal empat jam dua belas siang. Aku tidak habis pikir, kenapa aku bisa lupa dengan lomba ini. Kenapa setelah aku ketik, paginya tidak langsung diprint. Harapanku pupus sudah. Seperti biasa, kutuangkan curhatanku disetiap malam yang tenang kecuali malamku yang penuh sesak ini. 

Senin-04-10-17
Malam yang begitu panas, Putihku,
Hari ini hari di mana aku menjadi giliran pemberi sarapan pagi. Aku mendapat bagian menulis soal matematika. Teman-temanku pusing bukan kepalang menjawabnya. Hahaha, mereka sampai menunggu Bu Elpin, guru matematika di ruang guru.

Hari ini tak kalah sedihnya dengan hari-hari lalu. Deadline lomba yang sudah tenggang aku ceritakan kepada ibu. Ibu malah mau mengantarku untuk mengirim naskah tadi habis solat isya. Aku jawab kalau pengiriman teksnya sudah terlambat. Ibuku malah menjawab siapa tahu yang terlambat masih bisa diterima. Mana ada seperti itu. 

Tetapi setelah merenung beberapa saat, aku menyadari, apa yang aku lakukan, semua itu adalah ajang buat aku mengasah kemampuan menulis. Ini bukan soal aku ikut lomba ataupun menang dalam lomba. Ini semua adalah tentang bagaimana agar tulisanku berdampak bagi siapapun yang membaca. Tak peduli komentar miring mereka. Inilah kesalahanku, niat dari awal saja sudah salah. Cuma pengen dapet hadiah. Nida, kamu harus yakin, sesuatu yang menjadi penyesalan bukanlah akhir tetapi pelajaran dan kebijaksaan hidup yang tak pernah redup.
Sekian.
 tulisan ini pernah untuk lomba*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua