Outside of Life
Mengasyikkan sekali mengikuti dauroh tahsin kemarin. Ya, saya jadi tahu makharijul huruf beserta sifatul huruf yang tentu sebelum mempelajarinya, saya amat bingung akannya. Tujuh hari, kemampuan tahsin didrill setiap hari. Talaqqi surat al-Fatihah yang banyak salah, karena semua asisten pelatih dan asisten pelatih alumni timur tengah. Yang baru, asisten timur tengahan, dari pondok Wadi Mubarok. Ada pula anaknya almarhum Abi Sufyan (almarhum merupakan pengajar di Muallimaat) yang bernama Nafiah, baru lulus juga seperti saya, namun sudah menjadi tempat saya talaqqi.
Saya memilih menginap di sana. Siapa tahu, ada lebih banyak pelajaran. Aku terheran, di sana cadaran semua, cuy, kecuali beberapa saja termasuk aku. Ya, memang ikhwan dan akhwat terpisah dengan tabir. Ikhwan di depan, sedang akhwat di belakang. Mereka semua menjaga aurat dengan baik. Pun beberapa banyak yang nikah muda, juga sudah punya banyak anak. Saya antisipasi paling mencolok yang menginap namun tidak menggunakan cadar dengan memakai masker hijab biasa bewarna hijau.
Di suatu ketika, saya ke jemuran tak berkaoskaki bakda mencuci baju. Sudah dua kali saya ke jemuran itu. Seperti biasa yang kalau sudah melakukan apa-apa langsung buka hape. Dan kau tahu, dari siapa dan pesan apa yang disampaikan? Dari pihak dauroh yang menyampaikan pesan, ‘afwan ukhti, kalau ke jemuran harap memakai kaos kaki, ya, karena wajib hukumnya. Sedangkan untuk cadar, terdapat khilafiyah dan jika tak digunakan tidak apa-apa. Banyak ikhwan yang merasa terganggu soalnya.
Pesan itu teramat menohok saya yang apalah, perempuan ingusan yang amat kuat hubungannya dengan lingkungan pembentuk karakter saya. Ya, saya tahu kaki itu adalah anggota tubuh yang wajib ditutup, tetapi bisakah para ikhwan itu sedikit longgar saja dengan penampilan saya yang menurut mereka mengganggu itu. Coba, kalau ikhwan sedang di luar negeri atau sedang berdakwah di pasar kembang? Apa, iya, selalu menghindar? Cobalah, saya ini jadi batu loncatan dan latihan kayak begituan. Tetapi untung kali ini yang diingatkan adalah saya. Saya seketika sadar dan malu dengan apa yang telah saya perbuat. Memang di awal tidak terima, tetapi itu adalah peringatan ahlul jannah kepada saudaranya sesama muslim. Saya sudah tahu aurat itu. Dan amat naif dan bodoh jika saya mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari. Banyak orang banyak tipe. Mungkin bagi sebagian orang ada yang menganggap pesan itu sebagai angin lalu saja. Ada yang mungkin sensitif super tinggi dan mogok dengan Islam serta langsung minggat dari tempat dauroh. Dan bisa jadi jika dia muallaf, dia murtad kembali. Saya saja memikirkan pesan itu hingga sekarang kok. Masih terngiang-ngiang dan membuat mata menitikkan air mata. Pun banyak yang satu dua kali tak sadar jika diingatkan. Butuh banyak peringatan rupanya, toh memang seperti itu manusia tabiatnya.
Matan tuhfathul athfal. Nadzomnya yang berisi 61 bait dan berbahasa Arab itu, monggo dihafalkan kalau mau mendapat sanad hafalan. Sedang sanad materi beserta pemahaman-pemahamannya, dapat diberikan jika nilai ujian tulis 100 bulat. Materi tuhfatul athfal tidak asing bagi saya. Tetapi belajar kitab ini, baru pertama kali dalam hidup (padahal di lingkungan pondok). Selama 7 hari, saya belum bisa hafal mutqin (angel, utekke koyo kebakar). Di hari ketujuh, saya bisa setor sejumlah 17 bait, ya lumayan kalau dipikir-pikir. Kalau boleh tambah satu malam lagi, saya memilih tidak tidur demi mengincar sanad hafalan yang tidak boleh disiakan. Saya pulang paling akhir, bahkan hampir menambah satu malam lagi. Nyatanya saya tidak kuat dengan anak-anaknya yang kurang suka dengan saya yang sedari dauroh kemarin masih buka-lepas kaos kaki. Seakan tak berpikir bahwa saya pun bisa berubah. Setiap orang bisa berubah. Mengapa sikap yang dimunculkan tidak seperti Rasulullah? Saya memutuskan pulang bakda Maghrib itu, setelah membersihkan kamar mandi yang selama 7 hari telah saya gunakan. Berharap semoga anak-anaknya selalu Engkau ingatkan agar selalu hafidz terhadap ayat-ayat-Mu serta dapat merefleksikan dalam ketawadu’an. Itu saja doa saya yang mungkin sedang posisi terdzolimi. Sepanjang pulang menuju asrama saya menangis. Beruntungnya malam hari dan mana orang peduli. Masker dan helm sempurna sudah menutupi mata dan air mata yang menetes. Tak tau kapan akan berhenti.
-Godean
-obatTPAdadah
-ultahJuninoikhwanngucapin
-syawalanikmmam, gak melu
-bersikaplahlayaknyaakhwat!
Komentar
Posting Komentar