Musyrifah/2
Melanjutkan tulisan kemarin yang sarat akan keluhan dibanding penguatan. Maka tulisan kali ini, saya arahkan lebih kepada penguatan, bagaimana seharusnya kami
memandang diri kami sendiri yang sedang berstatus musyrifah. Menjadi musyrifah merupakan sebuah keterpanggilan yang harus dilakoni dari dalam hati. Menyadari kitalah pengganti orang tua dari anak-anak ampuan kami. Sadar akan kapasitas kemampuan dalam
membina yang ternyata jauh panggang dari kesempurnaan. Bahkan belenggu-belenggu kejahatan dari luar nyatanya, dengan piawainya masih saja menggoda kami. Menjadi pembina untuk anak-anak orang lain. Lantas, kemanakah ibundanya? Ayahandanya? Hati-hati berbicara seperti itu. Justru karena menyadari akan keterbatasan mereka sebagai orang tua dalam mendidik anak, mereka titipkan anak mereka kepada kami. Daripada sudah sadar tidak bisa memberikan pendidikan agama lebih kepada anak, akan tetapi anak juga tidak diberi-beri haknya itu. Malah dilantarkan dan dibiarkan dengan kondisinya yang seperti itu serta tak ada usaha untuk menginvestasikan anak sebagai bekal ke
akhirat kelak. Bukankah usaha untuk memondokkan anaknya, tentunya lebih baik dibanding seperti itu?
Bagi saya pribadi, amat memalukan jika kelak saya sudah beranak pinak, bacaan
Quran mereka yang bagus itu ternyata diajarkan oleh orang lain. Hafalan Quran yang berjuz-juz itu, hasil gemblengan pihak lain. Yang mendapat pahala yang mengalir kepada yang mengajar, dong, bukan ke ibunya sendiri. Saya ke mana? Mumpung masih mumpung dan toh
belum beranak pinak (belum berumah tangga juga, yeyyy). Masih santai dan belum mikir macem-macem, saya seharusnya semakin rajin menimba ilmu di sana-sini. Selagi ada kesempatan yang sudah terbuka lebar dan masih bisa diusahakan, mari kita usahakan. Belum
terlambat. Allah sudah menakdirkan kita, bahwa sebetulnya kita mampu berusaha unutuk mendapatkan yang kita mau, tinggal mau mencoba usahanya itu, ya?
Sudah kewajiban muslimah sepanjang hidupnya untuk belajar ilmu-ilmu yang pun sampai mati akan terus bermanfaat. Bukan hanya sebatas menjadi musyrifah, kita mengajar, mengamalkan yang
sudah dipunya, lalu mencari bekal ilmu lagi. Pun selepas musyrifah, semua itu tetap harus dilakukan mengingat status masih menjadi“muslimah”.
Musyrifah berasal dari bahasa Arab yang artinya orang yang memiliki kedudukan tinggi, mengawasi.
Sampai saat ini, filosofi penamaan musyrifah belum saya dapatkan pemahaman. Mungkin beberapa bulan lagi, atau setelah setahun ini menjadi musyrifah saya jalani atau beberapa
tahun lagi, saya mungkin baru faham dan mengerti, wallahu a’lam. Kewajiban yang tak sekadar kewajiban. Bahkan kritik Ustadzah Nur Hasanah akan tanggungjawab musyrifah yang wajib menggembleng anak, pun bukan hanya mengabsen, mengajar, serta setor poin. Ruhiyah anak-anak jarang sekali ada yang menyentuh daerah itu. Tak heran, jika memang suasana ma’had tidak ada rasanya sama sekali. Ta’lim-ta’lim tak
pernah ada yang menghidupkan. Keteladanan yang asring digalakkan, bahkan tak ada pengamalan. Pedih memang membahas seperti ini. Lagi-lagi keluhan ini bahasan. Sebentar,
tenang, saya akan tambahkan.
Saat ini kita, butuh role model yang mempengaruhi dengan hati dan tentunya segalanya akan dijalani dengan riang hati. Anak senang, pun musyrifah senang dalam esensi kebaikan yang sama-sama digerakkan.
Membangun rasa memiliki harus selalu dikerahkan, bahwa mereka berhak atas kita sebagai orangtua. Rasa memiliki, give the highlight! Seringnya kita merasa bahwa hidupmu ya hidupmu. Hidupku ya hidupku, saya tinggal jalani
pertanggungjawaban yang tampak, selesai. Urusan kamu nggak punya uang, masalah kamar, kebersihan, ya manut sistem saja, biarkan mengalir apa adanya.
Astaghfirullahal’adzim.
Hindari kami dari mindset seperti itu, Ya, Allah. Beri kami kekuatan untuk terus mendidik anak. Pun dari segi ‘ubudiyahnya, sudah benarkah solatnya? Matanya terkadang masih
plirak-plirik, rukuk yang belum sempurna, solatnya ada yang balapan. Juga sudah benarkah wudunya? Wajah yang tidak dibasuh, tangan yang tak sampai siku, kaki yang tidak dibasuh.Kalau pembenaran dan pembinaan tidak langsung dilakukan di asrama, maka sampai lulus, bisa jadi akan seperti itu solatnya, wudunya. Itulah mengapa peran musyrifah sangat penting.
PerpusMG
Kuncimotorilang
Haji1440H (haq dan batil, bakti pada ortu, khusnul khotimah, saat ibadah di Makkah/Madiah)
Melanjutkan tulisan kemarin yang sarat akan keluhan dibanding penguatan. Maka tulisan kali ini, saya arahkan lebih kepada penguatan, bagaimana seharusnya kami
memandang diri kami sendiri yang sedang berstatus musyrifah. Menjadi musyrifah merupakan sebuah keterpanggilan yang harus dilakoni dari dalam hati. Menyadari kitalah pengganti orang tua dari anak-anak ampuan kami. Sadar akan kapasitas kemampuan dalam
membina yang ternyata jauh panggang dari kesempurnaan. Bahkan belenggu-belenggu kejahatan dari luar nyatanya, dengan piawainya masih saja menggoda kami. Menjadi pembina untuk anak-anak orang lain. Lantas, kemanakah ibundanya? Ayahandanya? Hati-hati berbicara seperti itu. Justru karena menyadari akan keterbatasan mereka sebagai orang tua dalam mendidik anak, mereka titipkan anak mereka kepada kami. Daripada sudah sadar tidak bisa memberikan pendidikan agama lebih kepada anak, akan tetapi anak juga tidak diberi-beri haknya itu. Malah dilantarkan dan dibiarkan dengan kondisinya yang seperti itu serta tak ada usaha untuk menginvestasikan anak sebagai bekal ke
akhirat kelak. Bukankah usaha untuk memondokkan anaknya, tentunya lebih baik dibanding seperti itu?
Bagi saya pribadi, amat memalukan jika kelak saya sudah beranak pinak, bacaan
Quran mereka yang bagus itu ternyata diajarkan oleh orang lain. Hafalan Quran yang berjuz-juz itu, hasil gemblengan pihak lain. Yang mendapat pahala yang mengalir kepada yang mengajar, dong, bukan ke ibunya sendiri. Saya ke mana? Mumpung masih mumpung dan toh
belum beranak pinak (belum berumah tangga juga, yeyyy). Masih santai dan belum mikir macem-macem, saya seharusnya semakin rajin menimba ilmu di sana-sini. Selagi ada kesempatan yang sudah terbuka lebar dan masih bisa diusahakan, mari kita usahakan. Belum
terlambat. Allah sudah menakdirkan kita, bahwa sebetulnya kita mampu berusaha unutuk mendapatkan yang kita mau, tinggal mau mencoba usahanya itu, ya?
Sudah kewajiban muslimah sepanjang hidupnya untuk belajar ilmu-ilmu yang pun sampai mati akan terus bermanfaat. Bukan hanya sebatas menjadi musyrifah, kita mengajar, mengamalkan yang
sudah dipunya, lalu mencari bekal ilmu lagi. Pun selepas musyrifah, semua itu tetap harus dilakukan mengingat status masih menjadi“muslimah”.
Musyrifah berasal dari bahasa Arab yang artinya orang yang memiliki kedudukan tinggi, mengawasi.
Sampai saat ini, filosofi penamaan musyrifah belum saya dapatkan pemahaman. Mungkin beberapa bulan lagi, atau setelah setahun ini menjadi musyrifah saya jalani atau beberapa
tahun lagi, saya mungkin baru faham dan mengerti, wallahu a’lam. Kewajiban yang tak sekadar kewajiban. Bahkan kritik Ustadzah Nur Hasanah akan tanggungjawab musyrifah yang wajib menggembleng anak, pun bukan hanya mengabsen, mengajar, serta setor poin. Ruhiyah anak-anak jarang sekali ada yang menyentuh daerah itu. Tak heran, jika memang suasana ma’had tidak ada rasanya sama sekali. Ta’lim-ta’lim tak
pernah ada yang menghidupkan. Keteladanan yang asring digalakkan, bahkan tak ada pengamalan. Pedih memang membahas seperti ini. Lagi-lagi keluhan ini bahasan. Sebentar,
tenang, saya akan tambahkan.
Saat ini kita, butuh role model yang mempengaruhi dengan hati dan tentunya segalanya akan dijalani dengan riang hati. Anak senang, pun musyrifah senang dalam esensi kebaikan yang sama-sama digerakkan.
Membangun rasa memiliki harus selalu dikerahkan, bahwa mereka berhak atas kita sebagai orangtua. Rasa memiliki, give the highlight! Seringnya kita merasa bahwa hidupmu ya hidupmu. Hidupku ya hidupku, saya tinggal jalani
pertanggungjawaban yang tampak, selesai. Urusan kamu nggak punya uang, masalah kamar, kebersihan, ya manut sistem saja, biarkan mengalir apa adanya.
Astaghfirullahal’adzim.
Hindari kami dari mindset seperti itu, Ya, Allah. Beri kami kekuatan untuk terus mendidik anak. Pun dari segi ‘ubudiyahnya, sudah benarkah solatnya? Matanya terkadang masih
plirak-plirik, rukuk yang belum sempurna, solatnya ada yang balapan. Juga sudah benarkah wudunya? Wajah yang tidak dibasuh, tangan yang tak sampai siku, kaki yang tidak dibasuh.Kalau pembenaran dan pembinaan tidak langsung dilakukan di asrama, maka sampai lulus, bisa jadi akan seperti itu solatnya, wudunya. Itulah mengapa peran musyrifah sangat penting.
PerpusMG
Kuncimotorilang
Haji1440H (haq dan batil, bakti pada ortu, khusnul khotimah, saat ibadah di Makkah/Madiah)
Komentar
Posting Komentar