Langsung ke konten utama

Musyrifah/1

Musyrifah-1

Assalamualaikum!
Mabrukun ‘ala kulli hal. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Tulisan Nouman Ali Khan yang terjemahan memang tak sebagus Bahasa Inggrisnya, apalagi kalau ayat al-
Quran yang dibaca itu, dijiwai dan dimaknai secara sima’i. kau tahu, mengenai apa? Tentang betapa 
kejujuran dan akhlak itu dalam urusan finansial harus selalu dikedepankan. Saya beri contoh saat 
menjadi musyrif. Misalnya, kita memang mendapat gaji, atau ma’isyah (sumber peghidupan), atau bisa 
juga disebut dengan mukafaah (sumber kecukupan). Lantas, apa benar, dengan gaji sebanyak itu, kita 
telah melaksanakan tanggungjawab dengan baik dan proporsional. Maksimalkah kita, atau jangan-
jangan malah sedikit bekerja namun ingin diberi hasil sebanyak-banyaknya? Urusan bisnis dalam 
amanah ini, jangan sekali-kali dipermainkan! Namanya memakan harta manusia dengan bathil. Orang 
tua yang telah mengamanahi, kok bisa-bisanya hanya berdiam diri? Tahu, seperti itu, masih berani 
berkoar-koar mengenai ikhlasnya mengabdi! Saya doakan semoga harapan kita semua menjadi 
kenyataan di dunia yang hakiki. 
Di samping mengenai bonus-bonus yang didapat musyrif, saya juga mau bercerita tentang betapa  
rumitnya pikiran yang menggelanyuti hari. Bangun pagi setiap hari sekitar jam tigaan, mutar keliling 
asrama untuk membangunkan, dilanjut subuhan dan bimbing tadarusan. Paling deg-degan itu, kala anak 
ada yang minta dibangunkan pagi (pengen tahajud apa sahur gitu), dan khawatir malah kitanya yang 
nggak kebangun. Saya beri contoh percakapannya,
“Ustadzah, saya mau minta tolong dibangunkan, mau sahur besok pagi,”
Satu orang berbicara, disoraki oleh teman-temannya yang lain. “Ust, saya mau juga, ya!.... ” Ampun, deh 
semua minta. Yah, yang namanya musyrifah, tanggungjawabnya sudah seperi itu, apalah hendak dikata. 
Batinlah saya dalam hati, Ya Allah, yang bangunkan hamba buat bangunin anak-anak itu Engkau. 
Sekiranya memang tidak Engkau bangunkan hamba, harapannya mereka bisa bangun sendiri. Jawab 
saya pada mereka,
“Iya, Dek. Besok Ustadzah bangunkan. Insya Allah. Oh iya, bilang juga, ya. Bilang juga! Bilang juga ke 
mm. siapa itu? Siapa?” Sengaja saya buat mereka kepo.
“Siapa, Ustadzah?. Siapa sih, Ust?”
“jangan lupa, bilang juga ke Allah. Minta dibangunin Allah.”
Tawa ringan pun menghiasi tempat kami bercakap.
Nikmatnya menjadi musyrifah, ibadahnya bejibun sekali nek dipikir-pikir. Walaupun sesekali, menjadi 
musyrifah itu yang dirasakan memang kosong, hampa dan nggak terarah, saya yakin, jawabannya selalu 
ada di Engkau, Ya, Allah. Pasti selalu ada jawaban mudahnya. Hampa karena betapa ilmu yang telah 
tersalur, selalu butuh asupan ilmu lain yang entah, bisa saya dapat dari mana. Supaya ilmu yang dipunya 
tak lantas membuat saya jadi jumawa. Apalagi menghakimi orang dan suka membentak. Ups, no bgt. 
Masih fresh graduate lagi. Lebih bahaya lagi kalau merasa sombong dengan pekerjaannya yang telah ini 
itu. Menjadi pahlawan bagi anak, dipamerkan dan berharap pujian. Haduh, sekalinya dikritik pedas, 
mudah sekali downnya. Pastikan kita bukan seperti itu, ya!
Di sisi lain kehidupan musyrifah, kami pun memiliki orangtua. Jauh kami berada. Libur tepat pada yang 
panjang-panjang saja. Idul adha, tidak pulanglah, soalnya beberapa anak masih stay di asrama. Saya pun 
begitu, yang lain bisa jadi juga seperti ini, merasa bersalah sekali dengan orang tua. Sudah enam tahun 
mondok, berat rasanya untuk merelakan satu tahun lagi. Maafkan Nida, ya, Bu. Jarang banget pulang 
semenjak jadi musyrifah. Rasanya, hari-hari penuh dengan laku anak yang kondisinya sama seperti saya. 
Butuh perhatian ortu. Padahal Nida udah ada motor, udah pegang hape, yang kalau chatan atau 
browsing unfaedah pun bisa. Rasa taqwa yang terjabar dalam Muroqabah harus didalami dengan 
riyadhah-riyadhah. Perlahan dan dimaknai. Kau, benar-benar diawasi dan dicatati. Oleh malaikat-Nya, 
Raqib dan Atid. 
Hidup kali ini cepat berubah. Sudah nyaman tanpa bel asrama dan dering telepon serta sepinya notif Wa 
yang paradoks memang untuk diharapkan. Ketika jadi nyata, eh, bukan dari doi, tapi dari wali. Terus 
terang saja, celutukan, “Kapan, sih, bisa hidup tenang?” sesekali terlontar. Hati-hati, memang sudah 
jatahnya nasib orang itu. Kalau sadar bahwa memang  jadi pekerjaan dan tanggungjawab, insya Allah 
akan terbiasa dan ikhlas menjalaninya.
Partner musyrifah. Membahas ini, tak elok jika tak disertai bahasan pamong. Pamong kami Umi Inayah. 
Pandai sekali mengontrol emosi dan piawai dalam berucap terutama dengan wali santri. Hafidzoh 
mutqin 30 juz ini, juga greteh sekali terhadap santri-santri. Ketika ada yang sakit disambangi, dan greteh-
greteh lain yang tak segan untuk beliau utarakan. Pernah beliau marah karena mulut-mulut kami yang 
tak bisa dikondisikan pada malam hari. Meneriaki kami dari lantai bawah kemudian masuk kamar. 
Selang setengah jam, beliau keluar. Memanggil kami baik-baik dan mengatakan bahwa tadi beliau 
masuk kamar untuk menenangkan diri dan memastikan emosinya tak kan meledak jika sudah 
berhadapan dengan anak. 
Juga bahasan mujanibah. Asisten kami, hebat-hebat dong. Anak yang kami mujanibahi saat kelas satu, 
tak terasa, sudah menjadi mujanibah! Pandai sekali mengatur anak-anak. Mujanibah ini benar-benar 
ujung tangan musyrifah. Solat fardu, dhuha, oke berkat mereka. Gerbang ditutup pada waktunya juga 
atas bantuan Kakak dong. Disiplinnya, kebersihannya, tonjo! Lanjutkan, Kak! Keep hamasah dehh.
Saya jarang sekali olahraga. Dalam hati ada keinginan untuk senam atau jogging, tapi kok selama saya 
hidup di Muallimaat, musyrifah memang jarang-jarang ada yang mau perbaiki tubuh dan diri supaya 
bugar dan segar. Pun mengurus anak menjadi semangat anti lemes dan loyo. 
Baru 14 hari membersamai, maka harus jadi bahan pelajaran untuk ke depan. Ada anak- anak yang WA 
itu membantu saya move on dengan hape yang tengah dirundung prinsip agar tidak menerima chat dari 
ikhwan yang bukan urusan mendesak. Meneguhkan supaya tidak sepantasnya chat itu. Terimakasih, Ya 
Allah, kau beri hamba kesempatan untuk dapat menjadi musyrifah. Seorang yang berkewajiban menjadi 
Pembina anak-anak. Menjadi cabang baru untuk mereka. Cabang-cabang catatan takdir serta senang 
dukanya. Menambah sedikit memori/RAM mereka dengan pengalamannya bersama saya. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua