Langsung ke konten utama

Sholat itu Doa

Sholat itu doa. Kebanyakan orang lebih khusyu' di dalam berdoa ba’da sholat dibanding dengan sholat itu sendiri. Kulo nuwun kalian Gusti Allah dereng sae. Hei, padahal yang utama itu adalah di bagian sholatnya. Ahmad Dahlan saja selalu menekankan kepada muridnya akan pentingnya paham arti bacaan sholat. Menangis saat berdoa tetapi sama sekali tak memaknai solat. Asal gerak, asal wes 
salam. Apa hanya menjadi apik-apik saja. Nek muslim yo apike sholat, apakah seperti itu?

Perintah yang istimewa. Diberikan saat peristiwa mi’raj di langit ketujuh, lansung diberikan oleh-Nya, tanpa perantara Jibril. Di mana dari 50 waktu menjadi  hanya 5 waktu saja. Semakin dewasa, rasanya janggal sekali jika tak melaksanakan sholat. Gelo. Apalagi perempuan, dan inilah yang disebut dengan imannya yang tak sempurna dibanding dengan laki-laki, dikarenakan ada masa-masa wanita tidak boleh sholat, puasa, dan larangan ibadah lainnya.

Masih tentang sholat. Kali ini bahasannya ialah sholat Jumat pemersatu umat. Laki-laki ganteng itu yang tahu kalau sudah masuk waktu sholat, memilih bergegas menuju panggilan itu. Adem rasanya melihat toko-toko dan warung-warung kece yang bersedia tutup demi jual beli yang jauh lebih besar peruntungannya. Yakni jual belinya dengan Allah SWT.

Mencuplik tulisan lama saya di tumblr mengenai tahajud;
Pantaskah saya briefing di organisasi, membriefing orang untuk banyak hari tetapi diri sendiri saja tidak pernah dibriefing? Lagi ngomong apa sih, ni anak?
Saya sedang menyindir diri sendiri rupanya. Di tengah kepayahan, di pucuk jenuhnya, apa saya sempatkan tiap harinya buat melepaskan itu semua di sepertiga malam terakhir? Bersimpuh sujud menangis, bersyukur kepada Sang Pemberi Hidup. Menyadari betapa hinanya sederet daftar amalan yang telah saya perbuat di hari itu. Batin, nyinyir, nomongin orang, marah, ngejek, dan setumpuk perbuatan iblis yang menjelma di diri saya?

“Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang paling rendah. Kecuali mereka yang beriman, dan beramal sholih. Maka bagi mereka pahala yang tiada henti-hentinya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua