Langsung ke konten utama

Puisi untuk Rohingya, Palestina, Uigur, dan Saudara


Hai, Bangsaku, Fitrahku, dan Nafasku

Ingatkah ketika suatu kaum diuji oleh Rabb-Nya, mereka berkata,

Kapankah gerangan pertolongan Allah itu?

Dijawablah, bukankan pertolongan-Nya itu sudah dekat?

Setiap malam, kami dan anda bersimbah air mata

Anda bertanya, Dengan cara apa pertolongan itu diberikan?

Kami bertanya, Dengan cara apa kami menolong mereka?

Hingga izin-Nya atau urusan yang pasti terlaksana tak terjewantahkan

Sekat berupa negara semoga tidak lantas memisahkan,

Kita, para muslim yang bersyahadat

Nikmatnya menghafal al-Quran dan beribadah tanpa rintangan

Sayang, hanya disia-siakan

Sedangkan Engkau, sembunyi-sembunyi

Dan desingan peluru serta biadabnya rezim menjadi penyesak hati

Adu kau, kapan bisa bebas berkhalwat dengan-Mu, Ya Rabb?

Pantaskah berhuru-hara sedang Saudara dihabisi lawan?

Pantaskah berleha-leha sedang Saudara sedang berjuang?

Mencuatlah rindu Rasul sebagai pemimpin umat

Rindu Rasul yang selalu bisa mengatasi masalah ummat

Tak pernah bertemu, tapi kita rindu, Ya Rasul

Seperti inilah kami saat ini, Ya Rasul

Akhir zaman ini,  hanya ittiba’ dan genggaman bara yang dapat menyelamatkan

Kita, umat yang sedang menghadap kejamnya zaman

-UploadinInstagram
-@_salimadeena

Komentar

  1. Blog saya yg ini error..
    Sangat berharap bisa ada yg membenahi
    Mohon maaf jika saya tidak update

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua