“Jika dia terlalu tinggi, maka perempuan lain lebih pantas
lagi”
“Jika saya yang terlalu tinggi, maka akan ada orang lain
yang lebih pantas lagi”
“jika tak tertemukan di bumi, insyaallah akan dipertemukan
di akhirat nanti”
Wah, udah kaya’ expert banget di bidang seperti itu ya. Dan
serasa jijiki inget itu. Hal-hal seperti itu, baiknya disingkirkan jauh-jauh.
Terlalu behusnudzon itu sudah terlalu. Dia tak pernah sesempurna seperti yang
ada di tulisan-tulisan saya. Saya dari dahulu hanya menulis fiktif belaka
rupanya. Terima kasih pengganggu hidup yang nyata! Cukuplah anda menjadi kawan
tanpa rasa suka. Dari pada berakhir menyakitkan? Bukankah seharusnya memang
tidak terlalu jauh mengenal seseorang yang kita suka supaya tidak menjadi prahara
tajam? Bahkan kelewat PD menyimpulkan sesuatu yang saya tiada suatu pun ilmu
tentang hal itu, tentang perjanjian layar bercahaya itu mungkin.
Nasihat Kecil:
“Bila anugrah tak melahirkan iman dan taqwa, sadarkah kau
akan musibah atau cobaan yang menimpa?” Itulah yang disebut kufur nikmat.
Ketika nikmat dari-Nya berupa kelebihan-kelebihan diri malah dijadikan bahan
kesombongan. Terlalu over menganggap kemampuan diri.
Musibah, tak kenal dengan Rabb. Hei, itu musibah dahsyat!
Tak berjalan di atas garis fitrah layaknya permulaan kita diciptakan. Berbelok
arah, hingga iman yang memunculkan sikap taqwa tak tumbuh jua. Maukah kau
syukuri anugrah itu dengan kau gunakannya demi menumbukan iman dan taqwa?
Supaya anugrah membawa kita ke dalam ridho-Nya bukan Jahannam yang ditanya
tentang penuhnya.
-mintatolongitu
-tulisanterakhirsebelumUN2k19
-tulisanterakhirsebelumUN2k19
Komentar
Posting Komentar