Suntuk. Kata yang menggambarkan keinginan seseorang untuk menyendiri,
berkontempelasi. Di saat semua rutinitas terasa hampa dan saya pun menanya kembali
tujuan hidup, lagi dan lagi. Lebih sering tidak terjawab, bukan? Dan ternyata,
menyendiri bukanlah jawaban terbaik. Membersamai orang-orang dan belajar
bersosialisasi, setengah jawaban terbaik. Membebaskan diri dari suntuk dan
lamun. Penyempurnya ialah nat-niat yang tergabung, merasakan dzat-Nya yang Agung
yang selalu Mengawasi dan Menilai ketulusan hati.
Candu suntuk tak lepas dari hari-hari. Terkadang pergi ke suatu
tempat sendiri. Menikmati syahdunya alam buatan dan alam alami.
Bahwa obat daripada hal itu adalah terus BERGERAK di atas
sang WAKTU. Terus bergerak hingga aktivitas berikutnya adalah bentuk istirahat
dari aktivitas sebelumnya. Senada dengan Q.S. al-Insyirah pada 2 ayat terakhirnya,
bukan? Fa idza faragta fanshab. Wa ila rabbika farghab.
Indahnya spirit ridho
orang tua itu. Kelas enam, jujur semakin selo, tandanya semakin banyak waktu terbuang percuma. Atau digunakan
buat berbuat unfaedah. Kembali ke spirit ridho orang tua bahwa uang yang
diberi, digelontorkan menjadi tanggungjawab pribadi untuk menggunakannya dengan
amanah. Penyesalan selalu ada dia akhir, atau sengaja tak melihat dan terus
mengulangi untuk kemudian mendapat pembalasan yang dahsyat di ujung cerita?
Ada satu budak yang tak pernah suntuk, dan terus
berdinamika, budak Allah, ‘abdullah. Di mana dia yang selalu terbebas dari belenggu nafsu dan syahwat. 'Abdullah, hamba yang merdeka sesuai fitrahnya.
Jumadil Awwal, 1440 H
Komentar
Posting Komentar