Langsung ke konten utama

Mujanibah --



Tahun kelima memujanibahi kelas tiga pada tahun kedua berstatus mujanibah. Inilah anak-anak yang hakiki dengan penuh kejujuran dan tingkat emosi yang sedang pada puncaknya. Senang mengekspresikan diri dan mengeksistensikan diri di bawah bayang-bayang arus globalisasi dan canggihnya teknologi. Saya dahulu, dan mereka  itu berbeda dan tak bisa disamakan. Entah lawan jenis yang seperti apa yang mereka sudah kenal. Harapannya bisa dijadikan pelajaran supaya tak masuk ke dalam lubang yang sama. Loh, iya, dengan mengenal tipe-tipe dan karakteristik berbagai cowok tentunya kita semakin paham mana yang patut dan pantas untuk kita sukai dan mana yang harus kita hindari. So, kejahilan yang pernah kita alami dahulu jangan sampai terulang di waktu selanjutnya maupun di waktu yang akan datang. Next..

Asrama bewarna coklat dan krem. Bertaruh hidup bersama putri-putri yang mamasang jangkar niat pada bangunan ini. Untuk kemudian dilalakukan selama berbulan-bulan maka hei, ini cerita seru saya membersamai delapan belas anak. Mereka adalah, HJP, Yunia, Sobas, Putnab, Rara, Ulya, Zulfia, Faza, Zira, Sabila, Raihana. Mereka ini istiqomah di Mu’allimaat, kepedeannya saya kalau mereka terinspirasi saya. Week.  Nggak, bukan itu yaa. Mereka anak yang hebat, mau lanjut demi amanah orang tua, atau mau menjayakan Muallimaat pokoknya niat yang baik harus dipegang erat supaya hasilnya juga tonjo. Oh, iya, ada pula Anin, Reni, Nabila, Rania, Risol, Salwa, Dita yang tak terinspirasi oleh saya. Mujanibah macam apa, saya yang membiarkan anaknya pergi keluar sekolah. Tak mutu,kau, Nid. Tetapi sikap husnudzon juga perlu dibangun. Contohlah seperti Dita yang pindah ke Islam Cendekia. Sekolah yang lebih jozz dan sekolah yang sesuai minat dan bakatnya. Di mana, hal itu tak ia temukan di Muallimaat. Selain dia, mungkin seperti itulah rata-rata anak kamar saya yang pindah, menemukan hal yang ia senangi dan minati di luar. Atau mungkin menyebarkan aroma serta atmosfer positif di tempat baru ia berada.

Beberapa kali kumpul kamar. Sekadar memberi motivasi-motivasi ringan. Terkadang juga memberi ceramah ala kadarnya di musola atas. Bukankah, hati harus selalu didekatkan dengan nasihat-nasihat yang baik? Supaya tidak keras dan mudah menerima ajaran-ajaran ilahi melalui kitabullah dan sunnah-Nya. Pernah pula di sana saya mengadakan pelajaran tahsin yang bagi saya, bacaan al-Quran harus diupayakan sesuai dengan makharijul huruf dan tajwidnya. Bukankah itu kewajiban? Baik bagi yang belum tahu (wajib mempelajari) maupun yang sudah tahu (wajib mengajarkan).

Sikap saya sebagai mujanibah harus banyak dievaluasi dan diberi koreksi. Tak bisa layaknya halimah yang begitu mudah membaur dengan yang sudah berpisah. Apatah, keinginan seperti itu hanya bisa saya redam, terkadang senyum yang tak terbalas ini amat menyakitkan. Lebih, lebih memalingkan muka, tanda tak dimanusiakan. Ingin menebus kesalahan ini dengan cara apapun selama tak menyalahi aturan agama. Lalu bagaimana pendapat kalian, wahai anak yang pernah saya mujanibahi?

Ttd
Mbaknidaygbanyaksalah
Yggaje
17/18 (jamansayaPRIPM)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua