Langsung ke konten utama

FUTURE


Azamkan diri. Bulat tekad terpaut tawakal. Bahwa hidup bukan melulu soal perhatian netizen atau penilan orang. Ini tentang saya dan masyarakat baik itu masyarakat asrama, masyarakat madrasah atau masyakarakat kampung dan lain sebagainya.

Dan setiap keraguan itu datangnya dari setan. Maka pilihlah dengan pasti dan mantap. Jangan sampai terombang-ambing bak kapal yang tak tentu arah. Pergilah dengan suatu alasan pasti tuk kembali nan disegani, dicari.

Tak apa membekali amunisi di daerah lain. Kuatkan pertahanan menghadapi kebuasan di luar. Jangan sampai menyesal atau terlarut ketika sudah di luar.

Menginsprasi banyak orang dengan pandai di berbagai bidang. Pandai agama, IPA, IPS ingin saya satukan pada diri saya. Di samping itu pertimbangan sawah yang luas itu siapa yang kelak akan mengurus? Jangan sampai munculnya hunian baru harus menggerus dan menghilangkan sumber energi alias lahan sawah. *sangat berharap jodoh yang bisa ngarit dan macul. Minimal ada komitmen mau ngarit dan macul.

Tetapi juga pertimbangan TK ABA yang baru didirikan kemarin juga mengusik pikiran. Siapa yang mau mengajar? (Swasta Red-gaji). Padahal pengajar TK adalah soal keikhlasan. Maka cobalah bertanya pada pengajar-pengajar TK di sana. Siapa tahu, penjelasan terbaiknya berada di sana.

Adapun SD, tempat pendidikan dasar 6 tahun mnejadi tempat pembentukan karakter dan penanaman moral anak. Ingin turut menurunkan pemikiran saya di SD. Menyebarkan pemahaman baik itu. Semoga dapat mencetak para ahli pertanian bermula dari rahim pengajar SD.

Semuanya pekerjaan yang baik. Tinggal kau pilih sahaja, Nid. Setelah kau tamatkan Ma’had itu ya! 

Pandai dalam satu bidang tetapi mendalam akan lebih baik dari pada pandai semua tetapi kosong dalamnya. Manusia bodoh ini tak pernah lelah berdoa agar dijadikan manusia yang berguna, dan jangan sampai hamba memilih jalan yang buruk. Karena hamba yakin Engkau akan selalu mengetahui yang tebaik bagi hamba. Dan setiap pilihan hamba tak luput dari kehendak-Mu, Ya Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua