Ngepoin orang berujung ghibah (makan
bangkai saudara sendiri) dan menjadi Fitnah dari mulut yang tak pernah lelah
untuk mencela nan merekahkan patah demi patah kata bagaikan sampah. Jika sudah
kalimat buruk itu berbau, entah seberapa baunya mulut itu.
Urusan orang biarlah menjadi urusan orang.
Libur kau agaknya ada yang salah. Lihatlah ujaran-ujaran seusai libur yang
hingga adzan berkumandang, pun tak selesai jua hingga adzan solat berikutnya,
jadilah kau pendusta agama. Kurang nyata apanya atau butuh sedikit kelonggaran
maaf? Terbalik sudah, sedikit pahala berharap surga dan merasa cukup dengan
ibadah-ibadah itu, merasa aman dari ancaman neraka. Tak sadar, akan banyaknya
dosa yang melenggang santai dengan mengharap ampunan tanpa ada niatan untuk tak
mengulanginya. Padahal bagi mereka yang ulama itu takut akan tak diterimanya
amal, takut akan pedihnya siksa-Nya. Merasa bejibunnya amal belum cukup dan
selalu bersiap dengan jemputan-Nya.
Fitnah menjadi beban yang tak dapat
ditanggung. Awalnya bangga karena ialah yang pertama menjadi sumber tetapi
ternyata. “iyakah? ” dan “iya lho bahkan..” menjadi bumbu sedap dan tak
terbayangkan apa bentuk kabar yang diterima dengan penuh kemantapan busuk.
So, adakalanya diam menjadi emas di antara
kata buruk. Tetapi diam tak menjadi emas ketika ada kata baik atau malah saat
membahas kondisi umat.
Mulut kau kelak berbicara, dimintai
pertanggungjawaban. Berhati-hatilah, sobat!
Februari2019
Komentar
Posting Komentar