Tahun ini adalah tahun terakhir saya,
Halimah, Nunung, Sinda, dan
Ida berada di kelas tahassus. Adin dengan kepiawaiannya mempengaruhi orang,
saya berhusnudzon, Adin tidak mau egois dengan dirinya sendiri dan memilih
berada di asrama, berdakwah ala gayanya di kamar.
Ustadzah Nur memang kembali mengajar di
kelas tahsin dan mengampu tahassus pula di madrasah selain mengurus asrama
tahfidznya yang mampu beberapa waktu ini menghasilkan kader penghafal
Quran, 5 juz sekali duduk. Masyaallah.
Tetapi ustadzah Inayah sakit dan belum bisa kembali mengajar. Beliau baru saja
menjalani operasi pengangkatan kista yang beliau cerita bahwa dahulu di pondok, urusan makanan itu tidak ada
yang memperhatikan. Ketika beliau lapar, mi lah makanan yang langsung dituju
tanpa tahu bahayanya. Tahunya lapar,
makan mi, lalu kenyang.
5 hari selepas kami masuk di
semester pertama, tahassus libur. Begitu terkejutnya kami ketika yang mengampu
adalah ustadzah Nur. Guru yang selalu bertindak sesuai tempatnya. Mengingatkan
tanpa segan dan menyakitkan. Lihatlah akhlak para penghafal al-Quran itu!
Supaya kita tersadar bahwa goal, aim, purpose, objective or whatever it is,
dari kelas tahassus maupun asrama tahfidz adalah AKHLAKNYA. Tergelitik sejenak
rupanya ketika setelah beberapa waktu masuk, gemblengan beliau seakan menyihir
kami semua. Di mana kondisi rukuh tidak rapi, tempat yang tidak disediakan
(tikar yang digelar), sampah berceceran, mulai solat saat iqamahnya sekitar
(seharusnya, SEBELUMNYA), menghafal atau membaca Quran ketika tidak ada wudu,
dan gelitik-gelitik maupun tohokan lainnya mengubah kami menjadi sebaliknya.
Karena esensi dari kelas tahassus adalah pengisi dan cikal bakal asrama
tahfidz. Aturan dan etika yang tak bisa dipegang, keluarkan sajalah. Karena di
luar sana banyak yang menmimpikan posisi itu, toh seandainya dia tidak lagi
berada di kelas tahassus, mengaji dan menghafal di asrama adalah sama baiknya.
Wajah yang lelah dibalut dengan
perawatan ala muslimah yang tetap membuat beliau fresh ditambah dengan kantung
mata bewarna hitam terus saja siap sedia disetori bacaan talaqqi maupun hafalan
kami. Dengan senyuman yang luar biasa ramahnya seakan cacat atau aib yang
selalu diceritakan beliau terhadap dirinya kepada kami tak terbukti.
Pembaharu oleh Sang Guru ini
amat patut diapresiasi dan dijadikan inspirasi.
Hari ini, tanggal 20 Januari
kami libur sejenak. Beliau ke Banyuwangi merawat ibunya entah berapa lama lagi
kami bertemu beliau kembali.
Komentar
Posting Komentar