Langsung ke konten utama

TAHASSUS 3


Tahun ini adalah tahun terakhir saya, Halimah, Nunung, Sinda, dan Ida berada di kelas tahassus. Adin dengan kepiawaiannya mempengaruhi orang, saya berhusnudzon, Adin tidak mau egois dengan dirinya sendiri dan memilih berada di asrama, berdakwah ala gayanya di kamar.
Ustadzah Nur memang kembali mengajar di kelas tahsin dan mengampu tahassus pula di madrasah selain mengurus asrama tahfidznya yang mampu beberapa waktu ini menghasilkan kader penghafal Quran,  5 juz sekali duduk. Masyaallah. Tetapi ustadzah Inayah sakit dan belum bisa kembali mengajar. Beliau baru saja menjalani operasi pengangkatan kista yang beliau cerita bahwa dahulu di pondok, urusan makanan itu tidak ada yang memperhatikan. Ketika beliau lapar, mi lah makanan yang langsung dituju tanpa tahu bahayanya. Tahunya lapar, makan mi, lalu kenyang.

5 hari selepas kami masuk di semester pertama, tahassus libur. Begitu terkejutnya kami ketika yang mengampu adalah ustadzah Nur. Guru yang selalu bertindak sesuai tempatnya. Mengingatkan tanpa segan dan menyakitkan. Lihatlah akhlak para penghafal al-Quran itu! Supaya kita tersadar bahwa goal, aim, purpose, objective or whatever it is, dari kelas tahassus maupun asrama tahfidz adalah AKHLAKNYA. Tergelitik sejenak rupanya ketika setelah beberapa waktu masuk, gemblengan beliau seakan menyihir kami semua. Di mana kondisi rukuh tidak rapi, tempat yang tidak disediakan (tikar yang digelar), sampah berceceran, mulai solat saat iqamahnya sekitar (seharusnya, SEBELUMNYA), menghafal atau membaca Quran ketika tidak ada wudu, dan gelitik-gelitik maupun tohokan lainnya mengubah kami menjadi sebaliknya. Karena esensi dari kelas tahassus adalah pengisi dan cikal bakal asrama tahfidz. Aturan dan etika yang tak bisa dipegang, keluarkan sajalah. Karena di luar sana banyak yang menmimpikan posisi itu, toh seandainya dia tidak lagi berada di kelas tahassus, mengaji dan menghafal di asrama adalah sama baiknya.

Wajah yang lelah dibalut dengan perawatan ala muslimah yang tetap membuat beliau fresh ditambah dengan kantung mata bewarna hitam terus saja siap sedia disetori bacaan talaqqi maupun hafalan kami. Dengan senyuman yang luar biasa ramahnya seakan cacat atau aib yang selalu diceritakan beliau terhadap dirinya kepada kami tak terbukti.

Pembaharu oleh Sang Guru ini amat patut diapresiasi dan dijadikan inspirasi.

Hari ini, tanggal 20 Januari kami libur sejenak. Beliau ke Banyuwangi merawat ibunya entah berapa lama lagi kami bertemu beliau kembali.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua