Futhur atau lemah iman itu bak permainan gobag sodor yang tak bisa sekali lolos sudah begitu saja. Masih ada ujian berupa orang-orang di depannya yang mengawasi dan siap menangkap, bahkan cenderung lebih rumit, karena sekali lolos di orang pertama, maka di depan akan muncul lagi orang serupa dengan orang pertama dan terkadang kita tidak dapat melewatinya padahal pernah lolos sebelumnya. Contoh: saya berhasil melewati ujian “Lawan Jenis” tetapi ujian solat khusyu’ maupun tertunaikan solat rawatib belum bisa saya lewati. Padahal sebelumnya sudah pernah dan bisa, tetapi proses mempertahankan amat susah dan licin tuk dikendalikan. Apalagi keistiqomahan baik solat ataupun rokaatnya solat tahajud. Sekali-kali di depan sana muncul pula ujian “Lawan Jenis” lagi. Terkadang lulus terkadang gagal. Padahal sebelumnnya pernah lulus. Begitu, menggelikan, bukan?
Ya Allah, tetapkan hati ini atas agama-Mu, tetapkan hati ini atas ketaatan kepada-Mu. Rasa berat itu harus terganti dengan keihklasan yang darinya tumbuh kenikmatan ukhrawi. Sadar akan tujuan hidup supaya ghirah hidup untuk ibadah terus menyala. Jadikanlah kaum muslimin hari ini kaum masuk ke dalam golongan yang sedikit itu, yang menggenggam bara api itu, yang mengenal Tuhannya itu, yang khusyu’ dalam sholatnya itu.
Beruntungnya, beruntungnya, beruntungnya
Bagi mereka, mereka yang selalu berjuang mengubah dengan apa adanya
Meruginya, Meruginya, Meruginya
Bagi mereka, mereka yang melihat tanda kemudian pasrah, acuh, meninggalkan dan membuang muka
Komentar
Posting Komentar