Langsung ke konten utama

Be Right Muslima!

Ditinjau dari psikologi remaja anak perempuan itu, sedang pada masa pubertas, di mana remaja senang mengetahui hal2 baru dan menikmati kebebasan. Ketika pertama kali merasakan kesenangan maka akan bertambah keinginannya untuk merasakan kesenangan 2 lain yang jauh mengasyikkan. Apalagi kalau sudah kenal lawan jenis yang seharusnya kita tidak diperbolehkan berinteraksi lewat media apapun kecuali terdapat urusan yang amat mendesak. Hal ini pula yang sedang saya terus ikhtiarkan untuk dapat terus berpegang pada prinsip orientasi awal yaitu, kelak sebagai madrasatul ula bagi anak.

Chat yg melenakan, hiburan yang tiada pernah ada batasan. Hingga ia lupa identitasnya sebagai musyrifah yang bertugas  mendidik anak2. Hingga lupa bahwasannya menjadi musyrifah itu menjadi aspek fundamental yang turut membentuk karakter anak.

Toh kalau tidak menjadi musyrifah pun kita tetap muslimah, bukan? yang seharusnya menjaga kehormatan diri dari hal-hal yang dapat merusak identitas kita sebagai muslimah yang sebenarnya.

Maka pada prinsip selanjutnya, menjaga pandangan amat sangat diperlukan demi terjaganya perasaan yang amat sarat dengan rayuan setan. Dari mengkhayalkan yang bukan-bukan. Dan akhirnya terjerumus dalam fokus-fokus yang membahayakan pikiran.

KUATT, DEMI MAS(A) DEPAN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua