Ditinjau dari psikologi remaja anak perempuan itu, sedang pada masa pubertas, di mana remaja senang mengetahui hal2 baru dan menikmati kebebasan. Ketika pertama kali merasakan kesenangan maka akan bertambah keinginannya untuk merasakan kesenangan 2 lain yang jauh mengasyikkan. Apalagi kalau sudah kenal lawan jenis yang seharusnya kita tidak diperbolehkan berinteraksi lewat media apapun kecuali terdapat urusan yang amat mendesak. Hal ini pula yang sedang saya terus ikhtiarkan untuk dapat terus berpegang pada prinsip orientasi awal yaitu, kelak sebagai madrasatul ula bagi anak.
Chat yg melenakan, hiburan yang tiada pernah ada batasan. Hingga ia lupa identitasnya sebagai musyrifah yang bertugas mendidik anak2. Hingga lupa bahwasannya menjadi musyrifah itu menjadi aspek fundamental yang turut membentuk karakter anak.
Toh kalau tidak menjadi musyrifah pun kita tetap muslimah, bukan? yang seharusnya menjaga kehormatan diri dari hal-hal yang dapat merusak identitas kita sebagai muslimah yang sebenarnya.
Maka pada prinsip selanjutnya, menjaga pandangan amat sangat diperlukan demi terjaganya perasaan yang amat sarat dengan rayuan setan. Dari mengkhayalkan yang bukan-bukan. Dan akhirnya terjerumus dalam fokus-fokus yang membahayakan pikiran.
KUATT, DEMI MAS(A) DEPAN
Chat yg melenakan, hiburan yang tiada pernah ada batasan. Hingga ia lupa identitasnya sebagai musyrifah yang bertugas mendidik anak2. Hingga lupa bahwasannya menjadi musyrifah itu menjadi aspek fundamental yang turut membentuk karakter anak.
Toh kalau tidak menjadi musyrifah pun kita tetap muslimah, bukan? yang seharusnya menjaga kehormatan diri dari hal-hal yang dapat merusak identitas kita sebagai muslimah yang sebenarnya.
Maka pada prinsip selanjutnya, menjaga pandangan amat sangat diperlukan demi terjaganya perasaan yang amat sarat dengan rayuan setan. Dari mengkhayalkan yang bukan-bukan. Dan akhirnya terjerumus dalam fokus-fokus yang membahayakan pikiran.
KUATT, DEMI MAS(A) DEPAN
Komentar
Posting Komentar