“Sebaiknya, nanti saja…”. Jawaban ajakan menuju kesuksesan
hakiki, sholat. Jawaban akan bacaan kemahabesaran-Nya.
Mata ini terus tertutup ketika subuh tiba. Raga ini terus bekerja ketika duhur menyapa. Letih ini terus
menerjang ketika asar memanggil. Hiburan berupa HP atau TV terus menyala ketika
maghrib menjelang. Telinga ini tersumbat ketika isya’ berkumandang. Sungguh apakah
yang lebih besar dari-Nya? Definisi sukses yang seperti apakah yang diharapkan?
Bahkan sekolahku, Muallimaat belum kutemui adanya ketegasan solat tepat waktu
yang saat ini menerapkan kurikulum 2013. Artinya selama tiga tahun terakhir,
waktu solat ashar tertunda sekitar setengah jam. pernah kusampaikan kegalauanku
ini kepada pimpinan. Lagi-lagi soal manajemen atau sistem sumbernya. Aku disarankan
izin kepada guru yang mengajar jam pelajaran akhir ketika hendak menyekip solat
ashar. Kesimpulannya, pimpinan tak pernah memaksa siswa untuk tetap mengikuti
pelajaran. Pun tak menganjurkan atau menegaskan solat tepat waktu. Setelah kucoba
saran beliau, banyak guru yang lebih memilih melanjutkan pelajarannya. Ironi memang.
Panggilan itu sungguh membuatku tak nyaman sekaligus risih untuk melanjutkan
pelajaran. Bukankah yang Sunnah tak boleh mengalahkan kewajiban? Bahkan arti
panggilan itu jelas-jelas menyindir halus seluruh umat muslim. Entah dalam
kondisi sehat atau sakit, entah itu muda atau tua, seluruhnya sedang dalam
panggilan-Nya. Panggilan ini seharusnya dapat disikapi seperti panggilan kematian bahkan panggilan yaumul mizan yang tak seorang pun dapat menunda apalagi menolak.
Banyak guru yang mengeluhkan jam pelajaran yang terpotong
akibat tadarus, doa, atau solat. Padahal, kondisi psikis anak sedang pada
puncak terbaiknya ketika mereka bersinggungan dengan kegiatan ruhani. Asas efisiensi
mulai berperan. Maka guru yang baik adalah mereka yang melihat seluruh
keluhannya dari kacamata kelebihan, bukan kekurangan.
Juli, 2018
PulsekK13
Komentar
Posting Komentar