Langsung ke konten utama

6/2

The Little Sister

By: eldin

Ini tentang kita yg sukanya abai dan gesa. Tentang filsafat pada umumnya yang tentunya mengandung pertentangan. Saat berada di kalangan ke atas, maukah kau kembali lagi ke bawah? Jelas, semuanya menolak dengan tegas. Memilih cara supaya posisinya yang sedang di atas selalu eksis dan dikagumi banyak orang. Begitupun aku dan kawan2 kls 6 aliyah.

Berada pada posisi adik kelas jelas tak mau aku ulangi. Kalimat sebelumnya bermaksud implisit rupanya. Supaya kamu jangan bertingkah laku, berpenampilan, berbicara, sudut pandang, dan hal-hal lain sama seperti adik kelas. Perubahan. Naik kelas menuntut kita agar berubah. Akhlak terutama. Jika tak berubah, pertanyaan mau-maunya kamu kaya adik kelas. Gak malu? Gak kasian sama perjalanan menuju kelas selanjutnya? Maka, dasar dari perubahan itu seharusnya adalah dan hanyalah Allah SWT, agar kita dengan perubahan tersebut  dapat bertambah dekat dengan-Nya dan muncul rasa Istiqomah. 5 tahun sudah aku diolah. Entah jadi, apa? Bahkan perubahan dalam diriku itu, apa? Serta, perubahan itu hendak membuatku seperti apa?
Jika semua itu tak mengandung manfaat untuk sesama maka binasakanlah aku saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua