Formulasi kelas 6 aliyah
By: eldin
Berangkat jam 7 kurang lima. Dari bangun subuh dulu aja deh. Susah banget dibangunin, rela matanya dikencingin. Subuh dengan rasa malas yang luar biasa ditambah dzikir yang kata Abdul Somad ngalahin Valentino Rossi. Memilih tidur lagi bersama bantal dan guling kesayangan hingga kesiangan. Akhirnya mandi superman, sarapan gak Kober. Realita kami para petinggi negri yang bernama muallimaat.
Kelas tidur atau kamar pelajaran? Sebetulnya kamu yang mana? Jadilah engkau para penyambung tali mata rantai setan.
Hei, ini zaman kiamat tinggal kedipan mata. Hei, ini zaman buyut di kuburan udah nggak punya tempat. Sudahi saja hal yg menipu alias kw itu. Hal lain yang seru nan berkualitas lebih banyak. Lebih banyak adanya dan lebih banyak yang didapat.
Bersyukurlah bagi yang punya temen Langka buat ngajak kita rajin. Rajin tahajud terutama. Inilah saatnya kita bangun. Kita berproses dari awal. Kita bareng 2. Nggak ada yang paling baik. Nggak ada yang paling jelek. Semuanya saling belajar. Kau pahami aku dan aku pahami kamu.
Duhai masa dan depan akankah kau bawa aku dengan jaminan cerita? Dengan bumbu penyedap dari kisah orang-orang terdahulu? Tapi sungguh, aku benar-benar ingin berubah. Berubah dari diri sendiri diiringi dengan teman-teman yang memiliki prinsip yang sama. Karena aku tak manja seperti nyanyian. Karena aku bangga dengan status santri di sekolah pemimpin ini dan karena perjuangan yang tak boleh disiakan atas ibu bapak bahkan diri yang terus bergerak dan pikir yang tak pernah tak terkuras. Inilah saksi bercintaku dengan perjuanganku yang diisi dengan berbagai perubahan atasku. Penutup, jangan iri dengan teman-teman Adik kelas yang lebih murah daftar ulangnya. Bahkan teman-teman kampung yang gak bayar sama sekali di daftar ulang setiap kenaikan kelas. Juta juta ituuu duitee. Tunggu sajaa output pribadi kita. Tunggu saja hasil kader yang militan itu. Dan tunggu saja kader terbaik masing-masing kampung akan beredar memenuhi pasar masyarakat dengan kecakapannya yang semoga mampu menjadi pendidik itu.
By: eldin
Berangkat jam 7 kurang lima. Dari bangun subuh dulu aja deh. Susah banget dibangunin, rela matanya dikencingin. Subuh dengan rasa malas yang luar biasa ditambah dzikir yang kata Abdul Somad ngalahin Valentino Rossi. Memilih tidur lagi bersama bantal dan guling kesayangan hingga kesiangan. Akhirnya mandi superman, sarapan gak Kober. Realita kami para petinggi negri yang bernama muallimaat.
Kelas tidur atau kamar pelajaran? Sebetulnya kamu yang mana? Jadilah engkau para penyambung tali mata rantai setan.
Hei, ini zaman kiamat tinggal kedipan mata. Hei, ini zaman buyut di kuburan udah nggak punya tempat. Sudahi saja hal yg menipu alias kw itu. Hal lain yang seru nan berkualitas lebih banyak. Lebih banyak adanya dan lebih banyak yang didapat.
Bersyukurlah bagi yang punya temen Langka buat ngajak kita rajin. Rajin tahajud terutama. Inilah saatnya kita bangun. Kita berproses dari awal. Kita bareng 2. Nggak ada yang paling baik. Nggak ada yang paling jelek. Semuanya saling belajar. Kau pahami aku dan aku pahami kamu.
Duhai masa dan depan akankah kau bawa aku dengan jaminan cerita? Dengan bumbu penyedap dari kisah orang-orang terdahulu? Tapi sungguh, aku benar-benar ingin berubah. Berubah dari diri sendiri diiringi dengan teman-teman yang memiliki prinsip yang sama. Karena aku tak manja seperti nyanyian. Karena aku bangga dengan status santri di sekolah pemimpin ini dan karena perjuangan yang tak boleh disiakan atas ibu bapak bahkan diri yang terus bergerak dan pikir yang tak pernah tak terkuras. Inilah saksi bercintaku dengan perjuanganku yang diisi dengan berbagai perubahan atasku. Penutup, jangan iri dengan teman-teman Adik kelas yang lebih murah daftar ulangnya. Bahkan teman-teman kampung yang gak bayar sama sekali di daftar ulang setiap kenaikan kelas. Juta juta ituuu duitee. Tunggu sajaa output pribadi kita. Tunggu saja hasil kader yang militan itu. Dan tunggu saja kader terbaik masing-masing kampung akan beredar memenuhi pasar masyarakat dengan kecakapannya yang semoga mampu menjadi pendidik itu.
Komentar
Posting Komentar