Langsung ke konten utama

6/1

Formulasi kelas 6 aliyah

By: eldin

Berangkat jam 7 kurang lima. Dari bangun subuh dulu aja deh. Susah banget dibangunin, rela matanya dikencingin. Subuh dengan rasa malas yang luar biasa ditambah dzikir yang kata Abdul Somad ngalahin Valentino Rossi. Memilih tidur lagi bersama bantal dan guling kesayangan hingga kesiangan. Akhirnya mandi superman, sarapan gak Kober. Realita kami para petinggi negri yang bernama muallimaat.

Kelas tidur atau kamar pelajaran? Sebetulnya kamu yang mana? Jadilah engkau para penyambung tali mata rantai setan.

Hei, ini zaman kiamat tinggal kedipan mata. Hei, ini zaman buyut di kuburan udah nggak punya tempat. Sudahi saja hal yg menipu alias kw itu. Hal lain yang seru nan berkualitas lebih banyak. Lebih banyak adanya dan lebih banyak yang didapat.

Bersyukurlah bagi yang punya temen Langka buat ngajak kita rajin. Rajin tahajud terutama. Inilah saatnya kita bangun. Kita berproses dari awal. Kita bareng 2. Nggak ada yang paling baik. Nggak ada yang paling jelek. Semuanya saling belajar. Kau pahami aku dan aku pahami kamu.
Duhai masa dan depan akankah kau bawa aku dengan jaminan cerita? Dengan bumbu penyedap dari kisah orang-orang terdahulu? Tapi sungguh, aku benar-benar ingin berubah. Berubah dari diri sendiri diiringi dengan teman-teman yang memiliki prinsip yang sama. Karena aku tak manja seperti nyanyian. Karena aku bangga dengan status santri di sekolah pemimpin ini dan karena perjuangan yang tak boleh disiakan atas ibu bapak bahkan diri yang terus bergerak dan pikir yang tak pernah tak terkuras. Inilah saksi bercintaku dengan perjuanganku yang diisi dengan berbagai perubahan atasku. Penutup, jangan iri dengan teman-teman Adik kelas yang lebih murah daftar ulangnya. Bahkan teman-teman kampung yang gak bayar sama sekali di daftar ulang setiap kenaikan kelas. Juta juta ituuu duitee. Tunggu sajaa output pribadi kita. Tunggu saja hasil kader yang militan itu. Dan tunggu saja kader terbaik masing-masing kampung akan beredar memenuhi pasar masyarakat dengan kecakapannya yang semoga mampu menjadi pendidik itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua