Langsung ke konten utama

Guru SD





  
Aku bersekolah di SDIT Ar-Raihan. Sekolah yang berdampingan dengan lapangan warga yang berlokasi di Sumberbatikan, Trirenggo, Bantul. Baru kusadari, setelah aku menginjakkan kaki di SMP aku mengakui kehebatan mereka dalam mengajar. Legenda tentang guru yang pernah kurasakan sendiri. Dalam suatu kelas, pasti ada anak yang tertinggal alias butuh pemahaman yang ekstra dan juga pasti ada yang cepat dalam memahami pelajaran. Perubahan yang paling drastis pada diriku adalah pada kelas empat SD yang saat itu, kami dibersamai oleh wali kelas yang bernama Bu Sukamtini yang beralamatkan di Sanden, Bantul. Beliau memberi reward bagi siapa pun yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Contohnya saja diriku. Setiap pengambilan rapot, hati ini selalu berdetak kencang. Aku adalah penikmat ranking-ranking akhir walaupun tidak terakhir. Untuk menjadi  yang awal-awal, menurutku hal itu adalah hal yang amat susah seperti ada sebuah kutukan yang permanently. Tetapi berkat motivasi beliau aku masuk tiga besar. Itu adalah capaian terbaik yang pernah kudapat. Beliau menyuruh kami menuliskan keinginan apa jika kami berhasil mencapai target kami di kelas empat waktu itu. Pada pengambilan rapot, ibuku terheran-heran karena mendapat bingkisan paling besar di antara wali murid lainnya. Ternyata bingkisan itu berupa tas sekolah bewarna biru muda, harapan yang kuiinginkan.
Bu Kamti  pula yang mengajar mentoring atau keperempuanan bagi siswi perempuan saat sholat jumat tiba. Bu Kamti pula yang selalu mentalaqqi kami saat hafalan surat al-Insan juz 29 dengan sabar.
Selain Bu Kamti, ada Bu Sri yang mengajarkan kami arti pemaaf. Ada pula Pak Tri yang mengajarkan kami arti sederhana dan kecerdasan, Pak Faris yang mengajarkan arti keberanian, serta Bu Asih yang mengajari tahsin, pentingnya membaca al-Quran dengan tajwid dan makharijul huruf yang benar. Guru-guru hebat lainnya juga selalu mewarnai setiap perjalanan kami selama enam tahun. Wali kelas adalah mereka yang setiap rumahnya pernah kami kunjungi beramai-ramai sekelas. Entah itu masak kue atau makanan lainnya bersama, bermain, atau sekadar ingin menjalin silaturami. Mereka melakukan hal itu tanpa pamrih dan ikhlas. Tak pernah kutemui keburukan pada diri beliau-beliau. Walaupun mungkin ada, tetapi mereka selalu menjaga muruah mereka sebagai guru.
Guru mengesankan semacam inikah yang dinamakan tarbiyah, Tuhan? Maka balasan-Mu lah yang paling pantas bagi mereka. 
Lab IT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua