Langsung ke konten utama

Secercah Harapan Yang Tertambat Pada Lapangan Keyongan

Lapangan Keyongan kini hadir dengan wajah baru. Pinggir lapangan tersebut sudah diberi pagar dan semen. Kursi tunggu dari besi yang dicat warna biru di sebelah barat lapangan pun menambah daya tarik tersendiri. Lapangan ini adalah lapangan serbaguna. Banyak kita jumpai pada pagi hari atau sore hari beberapa pengunjung dan warga sekitar berolahraga di sana. Begitupun mereka yang hendak menjemur gabah, menemukan tempat luas serta tak lupa manfaat lapangan ini turut dirasakan oleh penggembala kambing, di mana gembalaannya menemukan harta karun berupa rumput-rumput subur yang bergoyang ditiup angin sepoi. Lapangan ini juga merupakan lapangan yang digunakan oleh beberpa tim sepakbola guna berlatih sepakbola ataupun futsal di hari-hari tertentu. Seperti halnya hari ini, hari Ahad, 16 Juli 2023. Riuh terdengar meyeruak dari berbagai penjuru lapangan. Teriakan “gol” menggema kala pemain berhasil menggiring bola ke gawang lawan. Ada sekitar lebih dari 50 anak-anak berlatih sepak bola di Lapangan Keyongan waktu tersebut. Sorakan para penonton menambah keseruan jalannya permainan sepakbola tersebut. Selain itu, terlihat payung-payung stand makanan yang dipasang tanda siap menjajakan jualannya. Tampak pula puluhan motor yang berjejer rapi terparkir dekat kursi tunggu.

Makin ke sini, lapangan ini semakin modis saja, menjadikan tempat yang masih “desa” itu serasa “kota”. Penjual-penjual pun melihat betapa pangsa pasar berpeluang besar untuk menjadikan lapangan ini tempat menjajakan dagangannya baik itu berupa es, cilok, bakso, bakwan kawi dan sederet jajanan favorit masyarakat. Tak kalah menariknya, matahari terbit menjadi momen yang tidak akan dilewatkan oleh siapapun yang melewati lapangan yang kurang lebih luasnya,  apalagi ditambah dengan pemandangan gunung Merapi dan gunung Merbabu yang tampak di sebelah selatan lapangan saat cuaca cerah. Syaratnya, kedua gunung tersebut tentulah tidak tertutup awan.

Tak dapat dipungkiri akan keestetikan dan daya tarik yang dimiliki oleh lapangan ini membuka secercah harapan bagi yang mengais rezeki lewat perantara lapangan sebagai tempatnya. Akan tetapi ada beberapa hal yang mestinya para warga baik itu pengunjung dari luar ataupun warga pribumi asli Keyongan perhatikan. Lapangan yang notabenenya telah dinikmati bersama baik itu adalah ruang mencari rezeki bagi pedagang maupun yang membeli bagi konsumen, dan penikmat tontonan futsal serta keindahan alam secara tidak langsung memerintah halus agar para “penikmat” lapangan bertanggungjawab atas apa yang dilakukan di area tanah lapang berumput tersebut. Dapat kita amati bersama foto yang tak tampak dari kejauhan itu. Akan tetapi jika dilihat dekat, tampak sudah, betapa sampah plastik yang tidak sedap dipandang berserakan di mana-mana. Menjadi tumpukan sampah hasil orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Merusak bumi, tanah yang ia dan kelak cucu-cucunya pijak. Berpikir impulsif, sesaat. Mengira dunia yang telah dirusak tak akan membalasanya. Seolah dunia ini adalah dunianya. Padahal esok, tak tahu kapan, di waktu yang akan datang, akan ada seorang ataupun kelompok secara gotong royong, berbaik hati menyapu dan membersihkan dengan susah payah lagi penuh perjuangan. Sungguh disayangkan, merusaknya begitu mudah, sedang menanggulanginya dan merawatnya mengapa enggan? Hitung-hitung investasi jangka panjang demi umur lapangan yang biasa “dinikmati”.

Penelitian sosial mengenai dampak revitalisasi Lapangan Keyongan sangat diperlukan guna pembelajaran bagi masyarakat di masa mendatang. Memetakan apa yang seharusnya setiap individu lakukan dan apa yang tak boleh dilakukan sebagai pedoman pemanfaatan lapangan yang tentunya masih ingin terus diinvestasikan agar tak ada yang membeli seplastik es hanya untuk membuang plastiknya dan meminum airnya. Kalau perlu kita canangkan gerakan zerowaste yang dimulai dengan pengenalan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan beserta alam dengan meminimalisir penggunaan plastik yang mana pada suatu plastik terdapat unsur mikroplastik yang sangat membahayakan lingkungan. Gerakan memakai tumblr dan wadah makanan juga merupakan saran yang yang patut untuk dipertimbangkan dilihat dari besarnya peluang gerakan yang mudah ini masyarakat praktikkan. Transformasi Lapangan Keyongan seperti saat ini haruslah dibarengi dengan bijaknya masyarakat dalam menjaga lingkungan. Semoga lapangan yang dapat memajukan warga dari berbagai segi ini, masyarakatnya dapat merawatnya sepenuh hati minimal dengan membuang sampah pada tempatnya. Besar harapan pula, lapangan-lapangan di sekitarnya dapat mengambil pelajaran dari transformasi Lapangan Keyongan sehingga upaya mengatasi hal-hal yang tak diinginkan lebih terkoordinir dengan baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua