Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2019

The Power of Tawakkal

Menjadi perwakilan lomba dan maju tingkat nasional merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Aku akan ke Jakarta Timur besok lusa, hari Ahad untuk mengikuti olimpiade matematika. Tiba-tiba bulu kudukku merinding, air mata mau menetes, membayangkan ketika aku sudah sampai sana. Ya, Allah, Engkaulah Pemudah segala-Nya. Maka mudahkanlah hamba dalam perjalanan dan mudahkanlah hamba untuk mengerjakan soal. Amiin. Aku percaya akan kekuatan allah Yang Maha Besar. Allah Maha Pembolak-balik yang handal. Dia memampukan siapa yang dikehendaki-Nya untuk mampu. Tak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah SWT. Seketika aku teringat kenanganku berupa tips yang pernah disampaikan oleh guru SDku, guru abadi bagiku, dua tahun silam. Pak Asep, guru PAI yang bertubuh gempal , bertanya kepada siswa SD kelas 6A, kelasku. Hendak menguji mereka, seberapa paham anak-anak ini tentang kehebatan Allah. “Nak, apa jadinya jika kamu ada ujian tapi kamu belum belajar, atau mungkin sudah belajar tetap...

Go Ahead!

Membaca buku tentang ulama Islam, menggertakkan hati saya untuk terus mengejar ketertinggalan saya di manapun saya berada. Sudah hafal alquran berapa juz sih. Mumpung masih mumpung, manfaatkanlah, Nid. Muda-muda gini kok kerjaannya menye sama bucinan. Idihh. Mit-amit dan na’udzubillahi min dzalik.  Saya masih belum bisa mikir, kok bisa, ya, orang-orang itu bekerja tanpa pamrih. Bekerja keras demi orang-orang yang disayangi. Memikul beban berat yang entah akan lebih besar pasak daripada tiang atau akan sama saja. Orang tua kita sendiri juga termasuk, dong. Entah seberapa peluh yang dihasilkan perhari. Seberapa mikir mereka dengan keadaan kita yang kuliah dan minta ini itu. Pun tanpa meminta, mereka tahu, bukan akan bejibunnya kebutuhan kita. Ya, Allah, jangan sia-siakan perjuangan orang tua kami. Bahkan demi kami yang tidak tahu diri. Bersekolah di SMA Muallimaat saja, rasanya berat mereka rasa. Apalagi yang kini duduk di bangku perkuliahan yang semakin liar saja kalau dira...

Mahad-1

Karena kita sama-sama bekerja atas anugrah dari Sang Maha Kuasa, maka sedikit akan saya paparkan mengenai teman-teman saya di mahad. Hampir semua mahasiswinya bercadar. Kapan nyusul, Nid? Nggak tahu nih. Padahal bercadar itu tentunya cita-cita Muslimah sejati yang tertinggi. Di mana keindahan dirinya hanya ditujukan kepada pasangannya kelak. Di mana, hal tersebut merupakan upaya sang akhwat untuk terbebas dari gelar “fitnah wanita.” Namun begitu, saat di kelas, ketika cadar-cadar itu terlepas, terlihat deh, wajah ayunya, kepribadian dan karakter aslinya. Mereka tetap solihah-solihah dong, pastinya. Ada yang sudah berumur 40 tahun ke atas yang sekelas dengan saya. Bersemangat sekali, memahami Bahasa al-Quran itu. Tidak terkira, tinggi motivasinya dan tekadnya. Memalukan diri saya yang masih saja tertidur di kelas. Padahal yo malam, nggak bergadang. Padahal mung sekolah neng mahad. Ada pula Nurul yang nyambi kuliah di UT jurusan Biologi Murni. Jam kosong, dia selalu membuka ...