Memberikan sepercik malamku untuk sebuah tulisan benar-benar paksaan yang mengalir. Aku berani memaksa diri yang lelah. Lelah dipakai seharian. Aku memaksa karena aku tahu, berhenti menulis adalah upaya untuk menghentikan mimpi. Menghentikan mimpi sama saja membunuh masa depan. Karena aku percaya, masa depanku adalah buatanku yang sedang diproses. Butir-butir kata yang terbuat dari tinta dirangkai menjadi paragraf. Ya, setiap hari aku selalu mewajibkan tubuh dan pikiran ini untuk menuliskan setidaknya satu buah karya. Entah itu catatan harian, opini, cerpen ataupun puisi. Menulis di atas olahan kayu bewarna putih lebih mengasyikkan daripada harus bertatap layar yang bercahaya alias laptop. Saat ada waktu senggang dan full-wifi , baru aku me mpostingnya di blog pribadi. Malam jam sebelas aku masih membuka mata setelah mengerjakan urusan yang terbengkalai tadi. Dilanjutkan menulis sebuah karya yang amat sederhana. Sering orang-orang menyebut bahwa diary untuk usiaku ini a...
Lopr tulisan batangan bukan koran apalagi emas!