Musyrifah/2 Melanjutkan tulisan kemarin yang sarat akan keluhan dibanding penguatan. Maka tulisan kali ini, saya arahkan lebih kepada penguatan, bagaimana seharusnya kami memandang diri kami sendiri yang sedang berstatus musyrifah. Menjadi musyrifah merupakan sebuah keterpanggilan yang harus dilakoni dari dalam hati. Menyadari kitalah pengganti orang tua dari anak-anak ampuan kami. Sadar akan kapasitas kemampuan dalam membina yang ternyata jauh panggang dari kesempurnaan. Bahkan belenggu-belenggu kejahatan dari luar nyatanya, dengan piawainya masih saja menggoda kami. Menjadi pembina untuk anak-anak orang lain. Lantas, kemanakah ibundanya? Ayahandanya? Hati-hati berbicara seperti itu. Justru karena menyadari akan keterbatasan mereka sebagai orang tua dalam mendidik anak, mereka titipkan anak mereka kepada kami. Daripada sudah sadar tidak bisa memberikan pendidikan agama lebih kepada anak, akan tetapi anak juga tidak diberi-beri haknya itu. Malah dilantarkan dan dibiarkan dengan kon...
Lopr tulisan batangan bukan koran apalagi emas!