Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Puisi untuk Rohingya, Palestina, Uigur, dan Saudara

Hai, Bangsaku, Fitrahku, dan Nafasku Ingatkah ketika suatu kaum diuji oleh Rabb-Nya, mereka berkata, Kapankah gerangan pertolongan Allah itu? Dijawablah, bukankan pertolongan-Nya itu sudah dekat? Setiap malam, kami dan anda bersimbah air mata Anda bertanya, Dengan cara apa pertolongan itu diberikan? Kami bertanya, Dengan cara apa kami menolong mereka? Hingga izin-Nya atau urusan yang pasti terlaksana tak terjewantahkan Sekat berupa negara semoga tidak lantas memisahkan, Kita, para muslim yang bersyahadat Nikmatnya menghafal al-Quran dan beribadah tanpa rintangan Sayang, hanya disia-siakan Sedangkan Engkau, sembunyi-sembunyi Dan desingan peluru serta biadabnya rezim menjadi penyesak hati Adu kau, kapan bisa bebas berkhalwat dengan-Mu, Ya Rabb? Pantaskah berhuru-hara sedang Saudara dihabisi lawan? Pantaskah berleha-leha sedang Saudara sedang berjuang? Mencuatlah rindu Rasul sebagai pemimpin umat Rindu Rasul yang s...

Prinsip J*d*h

“Jika dia terlalu tinggi, maka perempuan lain lebih pantas lagi” “Jika saya yang terlalu tinggi, maka akan ada orang lain yang lebih pantas lagi” “jika tak tertemukan di bumi, insyaallah akan dipertemukan di akhirat nanti” Wah, udah kaya’ expert banget di bidang seperti itu ya. Dan serasa jijiki inget itu. Hal-hal seperti itu, baiknya disingkirkan jauh-jauh. Terlalu behusnudzon itu sudah terlalu. Dia tak pernah sesempurna seperti yang ada di tulisan-tulisan saya. Saya dari dahulu hanya menulis fiktif belaka rupanya. Terima kasih pengganggu hidup yang nyata! Cukuplah anda menjadi kawan tanpa rasa suka. Dari pada berakhir menyakitkan? Bukankah seharusnya memang tidak terlalu jauh mengenal seseorang yang kita suka supaya tidak menjadi prahara tajam? Bahkan kelewat PD menyimpulkan sesuatu yang saya tiada suatu pun ilmu tentang hal itu, tentang perjanjian layar bercahaya itu mungkin. Nasihat Kecil: “Bila anugrah tak melahirkan iman dan taqwa, sadarkah kau akan musibah atau ...

Sholat itu Doa

Sholat itu doa. Kebanyakan orang lebih khusyu' di dalam berdoa ba’da sholat dibanding dengan sholat itu sendiri. Kulo nuwun kalian Gusti Allah dereng sae . Hei, padahal yang utama itu adalah di bagian sholatnya. Ahmad Dahlan saja selalu menekankan kepada muridnya akan pentingnya paham arti bacaan sholat. Menangis saat berdoa tetapi sama sekali tak memaknai solat. Asal gerak, asal wes   salam. Apa hanya menjadi apik-apik saja. Nek muslim yo apike sholat, apakah seperti itu? Perintah yang istimewa. Diberikan saat peristiwa mi’raj di langit ketujuh, lansung diberikan oleh-Nya, tanpa perantara Jibril. Di mana dari 50 waktu menjadi  hanya 5 waktu saja. Semakin dewasa, rasanya janggal sekali jika tak melaksanakan sholat. Gelo. Apalagi perempuan, dan inilah yang disebut dengan imannya yang tak sempurna dibanding dengan laki-laki, dikarenakan ada masa-masa wanita tidak boleh sholat, puasa, dan larangan ibadah lainnya. Masih tentang sholat. Kali ini bahasannya ialah shola...

BERGERAK

Suntuk. Kata yang menggambarkan keinginan seseorang untuk menyendiri, berkontempelasi. Di saat semua rutinitas terasa hampa dan saya pun menanya kembali tujuan hidup, lagi dan lagi. Lebih sering tidak terjawab, bukan? Dan ternyata, menyendiri bukanlah jawaban terbaik. Membersamai orang-orang dan belajar bersosialisasi, setengah jawaban terbaik. Membebaskan diri dari suntuk dan lamun. Penyempurnya ialah nat-niat yang tergabung, merasakan dzat-Nya yang Agung yang selalu Mengawasi dan Menilai ketulusan hati. Candu suntuk tak lepas dari hari-hari. Terkadang pergi ke suatu tempat sendiri. Menikmati syahdunya alam buatan dan alam alami. Bahwa obat daripada hal itu adalah terus BERGERAK di atas sang WAKTU. Terus bergerak hingga aktivitas berikutnya adalah bentuk istirahat dari aktivitas sebelumnya. Senada dengan Q.S. al-Insyirah pada 2 ayat terakhirnya, bukan? Fa idza faragta fanshab. Wa ila rabbika farghab. Indahnya spirit ridho orang tua itu. Kelas enam, jujur semakin selo...