Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Mujanibah----

“Ukhti, kalau ada yang begini itu begini, kalau ada yang begitu itu begitu, saya dulu pernah menjadi mujanibah  juga...,” hampir setiap hari seingat saya pamong itu meberi wejangan yang tak kunjung selesai. Padahal ketika sudah selesai, serasa baru tadi dimulai. Ustadzah Muslihah pamong kami ketika menjadi mujanibah kelas 1. Amat sabar beliau ini. Abi Yudi suami beliau, Mu’alliim di Mu’allimin juga tak kalah sabar, tausiyah terhadap kami merefresh ketidaknormalan jiwa setelah hari libur berlumur dosa masih terngiang-ngiang hingga kini. Teringat salah satu anak, beda kamar, yang amat terbuka dengan curhat-curhatannya. Kemana-mana saya ajak pergi. Saya juga pernah mengajaknya untuk dimintai tolong menjadi juru kamera saat saya berlatih lomba pidato bahasa Inggris. Gini toh, rasanya jadi real mujanibah. Amat membanggakan, bukan? Ada pula, anak yang amat sabar kita harus hadapi. Anak kamar saya yang mungkin jenuh akan kehidupan asrama. Sering sakit-sakitan. Kalau ngomong nerocos t...

Bertemu Kawan Lama

Allah telah mewanti, menasehati, memperingatkan kepada kita Wahai orang yang Beriman! Akan rusaknya amalan supaya janganlah kau rusak amalanmu. (Muhammad:33) Betapa banyak kita mengenal seseorang dan setelah berpisah kita merasa ada yang berbeda. Perbedan yang amat tajam. Tetapi tak jarang perasaan itu masih tetap sama sedari dahulu, melepas rindu dan bergurau dengan teramat lancar. Ada pula yang kita rasa bahkan amat sangat membuncah melihat kawan lama yang dapat lebih baik dari dahulu yang ia kenal. Orang yang amat berbeda, amat sangat asing, tetapi kita kenal. Biasanya lebih buruk dari yang dahulu. Entah itu cara berpakaiannya, pekerjaan haramnya, atau pergaulan bebasnya. Heran sinis yang menjadi tatapan kita. Tetapi apa boleh buat, kawan, bukankah, dia tetap kawan kita, dahulu, sekarang, dan besok? Tentu berpikir seperti itu adalah pikir reflek yang terjadi pada setiap orang. Tetapi justru inilah objek dakwah yang musthi dipegang erat. Atau mungkin malah kita yang berada di po...

*Rasa

Terukir indah bayangan-bayangan yang begitu mengganggu bagai racun khayalan. Menukik daya tak bersisa menegaskan supaya bersegera raib. Pencinta sejati rupanya sedang mengeluh, budak cinta katanya. Memberi pandangan bari tentang bewarninya rasa. Tetapi terlalu melankolis, amat melankolis. Wagu istilahnya. Jelei persisnya. Saya membutuhkan hal semacam itu untuk menangkap sebahagian kecil manisnya liku kehidupan. Tetapi saya harus mengaturnya dengan baik, biar tidak overdose. Bertafakkur, bertadabbur, akan ayat-ayat-Nya. Serta pekerjaan-pekerjaan yang masih banyak listnya menanti saya dengan anggunnya. Semuanya harus saya maksimalkan dalam rangka meraih ridho-Nya. Penghambaan diri manusia hina ini terselamatkan dengan harapan akan luasnya rahmat-Nya dibanding perihnya siksaan-Nya. Bagian tentangmu cukup jadi pemanis buatan yang berarti tak akan pernah asli dan murni. Masih banyak pemanis alami yang isinya usaha, ibadah, kerja, keras—nyuci, ntetrika, belajar, sholat, tahajud, baca Quran...

MUJANIBAH/01

Edisi ini sangat spesial. Hei, dua tahun sudah saya merasakan menjadi mujanibah. Jika saja boleh diulang menjadi seorang yang bernama mujanibah itu tentu saya akan ulangi dengan skenario seapik mungkin. Nama yang bersingkatan muje itu amat mendalam rupanya. 1 tahun sangatlah cukup untuk mengenal karakter orang itu. Hidup berdampingan pada malam2 yang biasa orang lain habiskan bersama keluarga, terganti dengan kami. Kali ini akan coba saya ceritakan secara singkat awal saya menjadi mujanibah kelas 1. Amat singkat dibanding hari-hari itu. "Anak kelas 1 itu enaknya kalau kita sering di kamar, perhatian, klo lagi curhat didengerin. Klo sakit diurusi.... " Sebelum memasuki asrama itu, mantan muje kls 1 yang bernama mba Bira ini menyampaikan tips, suka dan duka menjadi muje kls 1 yang dikenal harus penyabar itu. Rasanya deg2 serr. Apalagi kamar saya yang berhimpitan dengan gedung yang bersuara gaduh di malam hari saat melakukan kegiatan TS. Mengenal anak satu persatu. Mengen...

SELF

Hari sumpah pemuda. Terbentuknya azam yang kuat biar diri ini terus bergerak. Apapun yang terjadi,  apapun yang menghadang. Apapun yang membuat tak berkutik diri. Biar apa yang menjadi penggoda sirna tak bersisa. Adalah keteguhan saya dalam membela prinsip saya yang rupanya mau tak mau harus saya camkan. Semalu apapapun saya,  sehina apapun saya di mata orang2, it does'nt matter. Justru itulah yang membuat sinar itu lebih kuat silaunya. Dirimu adalah dirimu. kamu yang menjalani dan mereka bebas batini, asal dirimu tetap dirimu. Penerimaan diri oleh diri sendiri akan jauh lebih berarti dan lebih menghidupi dibanding penerimaan orang lain. Tetapi dengan penerimaan orang lain itulah yang dapat menjadi pertanda kita amat sangat layak berada di sisi mereka. Sekadar menghela laku perbuatan, dan berprinsip dakwah berkultur masyarakat. teruslahbertingkat-- heroday--