“Ukhti, kalau ada yang begini itu begini, kalau ada yang begitu itu begitu, saya dulu pernah menjadi mujanibah juga...,” hampir setiap hari seingat saya pamong itu meberi wejangan yang tak kunjung selesai. Padahal ketika sudah selesai, serasa baru tadi dimulai. Ustadzah Muslihah pamong kami ketika menjadi mujanibah kelas 1. Amat sabar beliau ini. Abi Yudi suami beliau, Mu’alliim di Mu’allimin juga tak kalah sabar, tausiyah terhadap kami merefresh ketidaknormalan jiwa setelah hari libur berlumur dosa masih terngiang-ngiang hingga kini. Teringat salah satu anak, beda kamar, yang amat terbuka dengan curhat-curhatannya. Kemana-mana saya ajak pergi. Saya juga pernah mengajaknya untuk dimintai tolong menjadi juru kamera saat saya berlatih lomba pidato bahasa Inggris. Gini toh, rasanya jadi real mujanibah. Amat membanggakan, bukan? Ada pula, anak yang amat sabar kita harus hadapi. Anak kamar saya yang mungkin jenuh akan kehidupan asrama. Sering sakit-sakitan. Kalau ngomong nerocos t...
Lopr tulisan batangan bukan koran apalagi emas!