Kabisat datang, setelah lama tak produktif, kini di bulan Februari, Rajab, dengan ism Allah, bismillah aku memulai. Usai perpisahan kamar dengan hadiah sebagai penutupnya, aku mendapat payung cantic bewarna biru dari Uni. Allah memberikanku taufik untuk tidak lagi menangis dan bersedih. Monster biduran sudah lama pergi, Walhamdulillah. Disebabkan jarangnya aku menangis, mataku membesar kekurangan air mata. Jika tak cepat diobati kata dokter bisa menjadi penyakit glukoma. Aku penasaran dengan penyakit mata ini, yang saat aku cari di internet, penyakit glukoma berdampak pada kehilangan penglihatan. Naudzubillah min dzalik. Betapa senangnya kita dapat menerima ketentuan Allah dengan penuh keridhoan.
Aku bertemu
dengan anggota kamar baru dengan segala ambisi mereka. Prinsip hidup, kerajinan,
kerapian, kebersihan, serta keramahan yang bisa aku pelajari dari mereka semua,
baik dari kamar lama maupun baru.
Bulan Rajab,
Aku akan selalu mengingat tazkir Ustazah Khoirot saat ia menjadi thalibah serta
bagaimana ia mengingatkan kami apa saja yang seharusnya kami lakukan di bulan
ini. Bulan di mana banyak dari kami yang lalai akan esensi ibadah, hubungan
kita dengan Allah. Tingal akhir dari bulan Rajab yang harus dimaksimalkan
dengan sebaik mungkin kemdian Syaban lalu Ramadhan. Bulan yang seharusnya
persiapannya minimal kayak persiapan pernikahan.
Aku memang
pendiam. Selalu berusaha berkata baik, jikalau tidak, lebih baik diam. Aku
harus fokus ke tujuan. Tak peduli apa yang orang banyak katakan, seperti
nasihat yang Ustazah Mia sampaikan mengenai fokus seorang anak yang aslinya ia
tak mua lagi ke masjid karena ia mendapati teman temannya berisik, berlarian,
ghibah. Mengapa tempat suci ini berubah menjadi tempat maksiat? Fokus, tak
peduli hampir berada di satu rumpun. Amar makruf nahi munkar semaksimal yang
kau bisa, sisanya serahkan kepada Allah. Di kelas, apapun yang tak kau sukai
dari kelas, kau harus tetap fokus apa yang berada di depanmu. Berjanji, lah,
Nid.
Komentar
Posting Komentar