Langsung ke konten utama

Pernak-Pernik Mustawa Khomis


Aku merasakan sedih yang luar biasa parah di semester kali ini. Bukan karena jodohnya tak kunjung datang. Bukan pula karena tugas yang menumpuk atau roisah gurfah. Sama sekali bukan. Perkara sepele hingga aku meminta takjil (cuti semester) kepada ibu. Tentu perkara pertemanan bukan hal yang enggak banget. Meskipun ada yang membenciku, membicarakan, menilai kekuranganku, masih ada banyak kawan yang tulus menjadikanku temannya, penyemangatnya, kawan dunia akhiratnya. Aku sangat bersyukur memiliki kawan seperti ia bersyukur.

Aku sadar aku tertidur lama. Tak kah kau perhatikan bahwa kondisi berbalik seratus derajat? Kau harus lebih giat. Aku akui aku adalah tholibah yang rajin, dan aku harus tetap rajin demi Allah dan Rasul-Nya, demi menegakkan agama ini. Ada banyak alasan untuk tetap bertahan dan aku berharap aku lebih bisa meresapi ayat-ayat-Nya ketika nafas masih kuhirup.

Curhat di blogspot memang tidak dianjurkan. Sekadar menguraikan benang kusut saja. Roisahku (sebenarnya dia naibah) kali ini -semoga Allah selalu melimpahkan rasa ikhlas di hati kita semua- sangat penyabar. Menjadi qudwah di segala aspek masya allah, barakallahu fiiha. Aku yang lebih besar justru dipertanyakan kedewasaannya. Masih terlalu anak kecil, bocil dan belajarlah darinya mumpung pintu untuk itu masih terbuka lebar.

Aku me-review kembali tulisan mengenai kantuk yang tidak pada tempatnya. Dzalim itu, menyadari bahwa mengantuk untuk tertidur lalu kehilangan kesadaran bukan hal yang patut diacungi jempol. Sudah tahu ini menandakan agar kita tidak menjadi orang bodoh yang seakan tak memiliki ilmu. Meneguhkan kembali niat, Allah sebagai sandaran.

Menjadi mudarrisah ibtidaiyyah, aku tak akan melupakan kisah Kayla dan Jibril. Bilqisti yang berbaik hati membetulkan mushaf Jibril, atau aku yang akhirnya menjadi qarinah mengajar bersama Nia. Allah selalu Adil, Allah Maha Adil. Kesusahan diciptakan untuk memberikan kemudahan. Mudah dalam berdoa dan khusyu saat salat misalnya. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur.

Sudahi, Nid. Kini saatnya untuk mempraktikan ilmumu di kehidupan. Berkahilah muamalah yang kami jalani, berikanlah kami taufik untuk selalu menyertakan ridho-Mu di dalamnya Ya Allah.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa(Esensi)

RESENSI BUKU 50 PENDAKWAH PENGUBAH SEJARAH Karya: Ahmad Jaelani Penerbit: ProU media Ki Bagus Hadikusumo, Tokoh Muhammadiyah sang perumus pembukaan UUD, preambule itu, keukeuh untuk menjadikan tujuh kata itu, yang sempat ditentang itu, ada dalam dasar negara. Ya, sila pertama itu. Gegara hal tersebut, semua tokoh bingung menghadap beliau. Keras dalam berpendapat dan wajib hukumnya, bahwa Islam harus menjadi akar, harus menjadi fondasi, atau landasan negara Indonesia. Lagi pula mayoritas penduduk negeri ini Islam, tentu jika kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya,” akan membuat kita, muslim Indonesia, menjadi muslim kaffah. Toh tidak ada kata paksaan pula untuk menjalankan syariat, jika bukan orang muslim. Di mana letak salah Pak Bagus Hadikusumo? Rupanya, banyak tokoh yang dengki dengan agama mulia ini. Biarlah semua agama mendapat perlakuan yang sama. Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan agama lainnya itu sama. Tidak ada yang mendapat keist...

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua