Suatu perbedaan membuat hidup lebih berwarna dan lebih nikmat. Quote mainstream yang sering orang katakan. Ada beberapa perbedaan yang saya temui di tempat kelahiran saya (jawa), tempat saya menuntut ilmu (sunda), dan ibu kota Indonesia.
1. Dahar artinya makan. Bagi orang Jawa, kata dahar adalah bahasa Krama Inggil atau yang paling halus. Kata ini digunakan ketika kita berbicara kepada yang lebih tua. Namun tidak dengan orang Sunda, justru kata ini di level ketiga, dan digunakan ketika berbicara dengan sesama usia yang akrab atau yang lebih muda. Sedangkan kata nedha (artinya sama, makan), dalam bahasa Jawa, kata tersebut adalah ngoko Alus, digunakan ketika yang kita ajak bicara adalah yang seumuran dan terdengar sopan. Adapun di Sunda, kata neda adalah Sunda halus yang dipakai untuk diri sendiri dan tidak untuk orang lain. Pantas, ketika saya berobat di salah satu RS di Jabar, saya menawarkan makanan kepada ibu yang duduk di sebelah saya, "mangga buk, dahar." Wajah ibu tersebut langsung berubah kurang menyenangkan. Dahar bahasa Krama, iya di kampung. Lah, ini kan dikawasan Sunda, yang benar, "mangga urang tuang sareng."
3. Mlinjo, yang dimakan kulitnya atau bijinya? Di kampung saya, sayur mlinjo yang dimakan ya kulitnya, untuk bijinya mungkin dijadikan emping. Sedang di matam, biji dan kulit sama2 dimasak. Saya makanlah kulitnya, pas lihat temen2 makan biji dan malah ninggalin kulitnya saya agak bingung. Saya cobalah makan biji mlinjo, pahit 2 kayak empingnya. Well, karena belum terbiasa saja, mungkin.
3. Di pasar Senen ada yang namanya pasar kue. Beroperasi pada malam hari. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, para pedagang yang kebanyakan berjenis kelamin laki-laki menjual sayuran serta buah-buahan pada jam 8 malam. Jam segitu masih padat ramai. Berbeda dengan pasar di kampung. Malam hari, ya sudah tutup.
#pasarsenen
#jalan-jalan
#jakarta
#pasar
#belanja
#bahasasunda
#bahasajawa
#jambuka
#keretaapi
#krl
#stasiunpasarsenen
#masjid
#salat
#safar


Komentar
Posting Komentar