Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

NEED REAL ACTION

Tidur sengaja di waktu guru sedang menjelaskan itu “Dzalim”. Dzalim kepada Sang pemberi ilmu, dzalim kepada waktu yang disumpah-Nya, dzlim kepada uang SPP pemberian ortu, serta dzalim kepada-Nya, Snag Pemberi Titah supaya menuntut ilmu. Maka energi-energi yang penuh kedzaliman itu merata, menyebar ke dalam nadi kehidupan. Tak seharusnya itu dilakukan. Potensial belum terkinetik maksimal. Akan saya coba mendengar beriring mencatat. What ever he/she said I would write it . Satu-satunya cara ampuh supaya tidak tidur di waktu orang mulia ini menjelaskan. Semoga upaya ini, orang mulia lainnya yang pernah saya dzalimi ini selalu memaafkan dan mendoakan. Waktu dhuha, usahakan sholat dhuha, minimal punya wudhu kalau tidak memungkinkan. Hidupkan kembali suasana menimba ilmunya iilmuwan Islam.  Istirahat jam 10, aktivitas yang memang paling enak adalah tidur. Tetapi nek buat tidur akan terasa percuma, malas menerjang dampaknya jam selanjutnya juga terasa malas, malas, dan malas. Al...

*RASA

Dia tidak menyakiti saya besar harapan. Sampai kapan atau benar-benar tidak akan. Dorongan hawa nafsu yang menjerat tertumpah dahsyat melampaui batas syari’at. Hei, itu bukanlah termasuk cirimu. Semoga ini nyaman bagi saya di tengah kalut hal itu. Menjaga saya dengan tidak terus menggenggam. Percaya dengan takdir-Nya dengan melepaskan. Sebegitukah kau percaya dengan angin yang tak pernah tampak? Membiarkan saya, memahamkan kepada saya bahwa saya bukan milik saya. Terserah pemiliknya mau untuk siapa dan dipasangkan kepada siapa. Itu mutlak hak-Nya. Tetapi sekali lagi, semoga dengan sebijaksananya dirimu kepada saya hingga tiga tahun terakhir ini menyadarkan saya bahwa bukan raga yang selalu bersama, bukan pula kata-kata sebagai prahara kepastian dan kesukaan akan tetapi penjagaan kesucian jiwa terhadap sesuatu yang fana’ dan penuh jurang yang curam, tanda kehati-hatian merupakan hal langka yang kini tak lagi dihiraukan.

DIBALIK NAMA

Tujuan hidupku adalah Engkau Menginti kepada nama setiap insan Apakah nama sudah menjadi cerminan? Layakkah kau dipanggil Nida? Pernahkah aku bertanya Mengapa namaku itu harus Nida Karena sesungguhnya aku tak kuat Aku tak mampu menyandang nama itu Menggigit jari kuat Saat arti dan makna melesat Menyeruak ke sanubari Itu nama sangat berat Bahkan lebih berat dari badan Nama itu pemberian orang tua Harapan mereka yang menjadi tanggungan Tanggunganku yang menjadi harapanku jua

Syarat Mutlak

Menghafal al-Quran amat sangat mudah karena-Nya, amat sangat mudah Bangun tahajud amat sangat lapang karena-Nya, amat sangat lapang Sesungguhnya keterbatasan itu milik hamba dan dunia, sedangkan Engkau, Maha segala hamba, tak terbatas. Maka sudah sewajarnya letak penyerahan akan niat dan laporan penyelesaian adalah hanya kepada Yang Maha Tak Terbatas, hanya kepada-Mu. Teguhkanlah hamba atas agama-Mu, Ya Allah.  

RESPECT

Manusia suka banget diperhatikan, sudah fitrahnya. Sungguh, teman-teman yang tak patut disia-siakan. Hanya bertanya satu patah kata, hanya melirik dengan penuh antusias hanya menyapa dengan alamat namanya, rasanya benar-benar dimanusiakan. Cobalah. Entah ada apa dengan saya yang terkagum-kagum dengan teman-teman yang banyak kawan. Pandai membaur dan suka bercerita memulai dengan percapakan ringan. Kaku adalah saya, sedang yang lain penuh canda tawa. Respect di sini mungkin bagi saya, teman  adalah nomor kesekian yang masih sampai saat ini terus saya usahakan. Tetapi hujjah saya atas tindakan saya dengan dasar, orang yang salam, orang yang sakit, orang yang bersin, akan menjadi awal-awal yang saya harus lakukan karena-Nya. Respect lainnya adalah respect kepada lingkungan, saat ada sampah misalnya. Pungut! Buang ke tempat sampah! Mematikan lampu saat sedang tidak digunakan, dan membersihkan lingkungan yang kotor. Respect kepada bapak ibu guru, tidak tidur saat pelajarannya dan pa...

*RASA

Semoga tulisan ini mewakilkan. Pertemuan di mana tak dapat terulangkan. Sesekali mengingatkan sosok yang amat tidak nggenah di via daring. Supel yang amat nyata adanya di dunia nyata. Kita pernah bertemu di saat sedang melakukan kegiatan. Selebihnya tidak. Berlari pernah tetapi tidak saling merasa. Mencari pernah tetapi sayang, tak tertemukan. Alasannya hanya satu, tak mau membuatmu kecewa. Bahkan di saat itu saya merelakan diri berkeliling. Demi berlari lebih kencang, sepatu pinjaman itu saya tinggal dengan acuhnya dengan alasan, tidak mau membuatmu kecewa. Menunggu saja dengan beribu pertanyaan, maka jangan pernah menunggu saya atau kamu itu berlaku. Saya menikmati kesendirian tanpa kesibukan “jelei” layaknya orang pacaran. Sibuk mikir ketemuan, janjian, ngasih barang, percakapan penuh cinta versi mereka, dan membalas. Tertinggalnya kamu semoga berkah. Dijadikan pelajaran untuk masa esok bahwa saya pernah mengenalmu tanpa dinoda rasa itu. Entah menahan seberat apa dibanding ...